Tradisi Saparan Mantran Wetan, Ungkapan Syukur di tengah Anjloknya Harga Sayuran
- 29 Jul 2026 16:00 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Lereng Gunung Andong
- Tradisi Saparan
- Jaran Papat
- Ingkung Ayam
RRI.CO.ID, Kabupaten Magelang - Udara yang dingin di ,Lereng Gunung Andong tepatnya di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang tidak menyurutkan masyarakat setempat menggelar upacara merti dusun. Tradisi Saparan tersebut menjadi ungkapan syukur warga atas rezeki yang diperoleh, sekaligus doa agar keberkahan terus mengalir di tengah hasil panen sayuran yang sedang tidak baik.
“Anggaran terbesar setiap Saparan ini untuk biaya menjamu para tamu yang berkunjung ke rumah-rumah warga. Saat Saparan seperti ini, kami menerima kunjungan teman, kerabat untuk bersilaturahmi,” kata salah satu warga Dusnu Mantran Wetan, Giyanto, Rabu, 29 Juli 2026.
Giyanto mengatakan, meskipun komoditas sayuran dari lahan pertanian warga sedang turun tajam, tetapi tidak menyurutkan warga untuk tetap melaksanakan tradisi yang turun temurun. Untuk menggelar hajatan tahunan tersebut, masing-masing kepala keluarga minimal harus mengeluarkan anggaran Rp4-5 juta.
Untuk persiapan Saparan tersebut, dirinya menyembelih lima ekor ayam kampung, baik digunakan untuk ingkung sebagai sarana kenduri, maupun untuk hidangan tamu-tamunya. Padahal, menjelang hari pelaksanaan, harga-harga kebutuhan untuk Saparan tersebut melambung tinggi.
Ia mencontohkan, satu ekor ayam kampung jantan yang digunakan untuk ingkung, harganya bisa mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per ekor. Sementara, masing-masing kepala keluarga menyembelih minimal dua ekor.
Ditemui terpisah, Kepala Dusun Mantranwetan, Handoko mengatakan, Saparan di Dusun Mantran wetan tersebut merupakan tradisi masyarakat yang masih dilestarikan. Saparan dilaksanakan setiap hari Rabu Pahing (penanggalan kalender Jawa) di bulan Sapar.
”Tradisi Saparan ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panenan tanaman holtikultura masyarakat Dusun Mantranweta. Pada Saparan ini , kami juga memohon kepada Tuhan untuk keselamatan dan kehidupan tentram seluruh warga supaya bisa terus giat bekerja menggarap pertaniannya," katanya.
Ia menambahkan, masyarakat juga meyakini apabila tradisi Saparan tersebut tidak dilaksanakan atau diubah harinya, akan ada kendala dalam kehidupan masyarakat. Ia memberi contoh, puluhan tahun silam, tradisi tersebut tidak dilaksanakan pada hari Rabu Pahing, sehingga hampir semua nasi yang digunakan untuk kenduri tersebut menjadi basi.
Rangkaian kegiatan Saparan tidak hanya sebatas acara ritual saja, tetapi juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional. Salah satunya yakni kesenian Jaran Papat yang merupakan tarian wajib dipentaskan dalam acara tersebut.
Kesenian Jaran Papat (kuda lumping) tersebut dimainkan oleh empat orang warga Dusun Mantranwetan yang semuanya telah lansia. Tarian tersebut merupakan kesenian pembuka dari keseluruhan pentas kesenian dalam kegiatan Saparan tersebut. (wied)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....