Budayawan: Satu Suro Momentum Introspeksi di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan Modern

  • 17 Jun 2026 12:22 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan kompetitif, peringatan Satu Suro dinilai tetap relevan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri dan menata kembali arah kehidupan. Hal itu disampaikan Budayawan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sucipto Hadi,

Menurut Sucipto, masyarakat saat ini cenderung disibukkan oleh pekerjaan, target pencapaian, serta berbagai tuntutan kehidupan yang membuat ruang refleksi semakin berkurang. Oleh karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Satu Suro dapat menjadi pengingat penting untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi diri.

"Dalam kehidupan masyarakat modern yang nyaris tanpa jeda dengan hiruk-pikuk pekerjaan, hiruk-pikuk meraih prestasi, dan berbagai hal yang bersifat keduniawian, maka saatnya kita menarik diri untuk melakukan introspeksi," katanya saat diwawancarai RRI, Senin, 15 Juni 2026.

Ia menjelaskan, apabila Satu Suro dimaknai sebagai tahun baru dalam penanggalan Jawa, maka momentum tersebut dapat digunakan untuk melihat kembali perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Dari proses refleksi tersebut, seseorang dapat menyusun langkah dan target yang lebih baik untuk masa mendatang.

"Pada malam Satu Suro itulah kita bisa melihat apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir. Kemudian, menata diri untuk menentukan apa yang ingin dicapai pada tahun berikutnya," katanya.

Sucipto menuturkan bahwa tradisi-tradisi yang berkembang pada malam Satu Suro, seperti tirakat, kungkum, maupun tafakur, sejatinya bukan sekadar ritual budaya. Tradisi tersebut mengandung pesan tentang pentingnya pengendalian diri dan penyucian batin di tengah kehidupan yang serba cepat.

Menurutnya, esensi Satu Suro justru terletak pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, menahan sikap berlebihan, serta memperbaiki kualitas diri melalui perenungan yang mendalam. “Momentum Satu Suro mengajarkan bahwa tidak semua hal harus direspons dengan hura-hura, tetapi ada saatnya seseorang berhenti untuk melihat kembali dirinya sendiri," ujarnya.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memaknai Satu Suro sebagai sarana membangun karakter, integritas, dan kesadaran diri. Dengan demikian, tradisi tersebut tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....