Pengrajin Caping Kalo di Kudus Makin Sedikit, Generasi Penerus Minim
- 27 Mei 2026 13:46 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus — Keberadaan Caping Kalo, penutup kepala tradisional khas Kudus, kian ditinggalkan masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pengrajin di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus yang selama ini dikenal sebagai sentra pembuatan Caping Kalo.
Pada era 1960-an hingga awal 2000-an, Caping Kalo masih banyak digunakan warga, khususnya para pedagang pasar sebagai pelindung kepala dari terik matahari. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan caping tradisional tersebut mulai berkurang dan tergeser oleh perubahan gaya hidup masyarakat.
Perubahan itu turut memengaruhi profesi warga Desa Gulang. Jika dahulu hampir setiap keluarga menjadi pengrajin Caping Kalo, kini banyak generasi muda hingga perempuan memilih bekerja di pabrik rokok, perusahaan percetakan, maupun industri elektronik yang berkembang di Kabupaten Kudus.
Salah satu pengrajin Caping Kalo, Kamto (58), mengaku saat ini membuat Caping Kalo sudah sulit dijadikan sumber penghasilan utama. Menurutnya, proses pembuatan membutuhkan waktu lama dengan hasil ekonomi yang tidak sebanding dibanding bekerja di pabrik.
“Bila kita jual dengan harga Rp500 ribu per buah Caping Kalo, kita tidak mendapat penghasilan. Dibandingkan bekerja di pabrik, penghasilan Rp70.000 atau Rp80.000 per hari,” ujarnya, Rabu, 27 Mei 2026.
Menurutnya, untuk membuat Caping Kalo dari awal hingga akhir, setidaknya butuh waktu sepekan. “Itu bisa jadi dua Caping Kalo, padahal ada bagian tertentu yang saya serahkan ke orang lain dan saya bayar,” tutur Kamto.
Melihat jumlah pengrajin yang terus menyusut, berbagai upaya pelestarian mulai dilakukan. CSR PT Nojorono bersama Pemerintah Kabupaten Kudus berupaya menjaga eksistensi Caping Kalo melalui pelatihan dan pengembangan budaya lokal. Bahkan, Tari Lajur Caping Kalo telah dipatenkan oleh PT Nojorono, sementara Tari Caping Kalo juga telah memiliki hak paten.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus, Endhah Samani mengatakan, pihaknya bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus melakukan pelatihan pembuatan Caping Kalo. Tujuannya agar keterampilan tersebut tetap diwariskan kepada masyarakat.
“Salah satunya adalah melakukan pelatihan pembuatan Caping Kalo kepada warga yang berminat. Dari beberapa kali pelatihan sudah ada yang mampu membuat Caping Kalo,” ujar Endhah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....