Perang Obor Menyala, Ribuan Warga Padati Tradisi Sedekah Bumi Jepara
- 26 Mei 2026 06:18 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Langit malam Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, mendadak terang oleh bunga api yang beterbangan saat obor saling dipukulkan dalam Tradisi Perang Obor, Senin, 25 Mei 2026 malam. Ribuan warga dan wisatawan membanjiri lokasi untuk menyaksikan ritual budaya yang telah diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun silam.
Tradisi tahunan itu menjadi magnet budaya yang tak hanya menyedot perhatian masyarakat, tetapi juga pejabat daerah. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Nawal Arafah Yasin, dan Bupati Jepara, Witiarso Utomo turut hadir menyaksikan langsung kemeriahan ritual khas Jepara tersebut.
Perang Obor merupakan bagian dari tradisi sedekah bumi sekaligus ritual tolak bala yang digelar setiap Senin Pahing, malam Selasa Pon selepas panen. Tradisi yang dipercaya telah berlangsung sejak abad ke-16 itu berkaitan erat dengan legenda Ki Gemblong dan Kyai Babadan yang hidup dalam cerita rakyat masyarakat Tegalsambi.
Kisah tersebut bermula ketika Ki Gemblong yang bertugas menggembala ternak terlena mencari ikan hingga ternak milik Kyai Babadan jatuh sakit. Dalam kemarahan, Kyai Babadan memukul Ki Gemblong menggunakan obor, namun api justru dipercaya membawa kesembuhan bagi ternak yang sakit.
Sejak saat itu, api obor diyakini masyarakat sebagai simbol keselamatan sekaligus penolak bala bagi desa. Keyakinan tersebut terus dijaga melalui tradisi tahunan yang hingga kini tetap menyala di tengah perubahan zaman.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin menilai, Perang Obor bukan sekadar tontonan budaya, melainkan sarat pesan moral tentang amanah dan tanggung jawab. Menurutnya, nilai luhur dalam tradisi tersebut penting terus diwariskan kepada generasi muda.
“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” kata Taj Yasin. Ia menambahkan, ritual itu pada hakikatnya menjadi bentuk doa masyarakat agar dijauhkan dari musibah dan diberi keselamatan.
Selain memiliki nilai budaya, Taj Yasin menilai Perang Obor juga berpotensi besar menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Antusiasme pengunjung yang memadati lokasi sejak sore hari menjadi bukti bahwa tradisi ini mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari Batealit untuk menikmati kemeriahan acara tersebut. Menurutnya suasana tahun ini terasa lebih meriah meski hujan sempat mengguyur kawasan acara.
Ia berharap tradisi itu semakin ramai setiap tahun dan terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara. “Sudah dua kali nonton, tahun ini lebih seru,” ujarnya.
Bagi warga Tegalsambi, Perang Obor bukan sekadar tontonan tahunan, melainkan bagian dari kehidupan yang diwariskan lintas generasi. Salah satunya Petruk, warga yang telah mengikuti ritual itu sejak tahun 2000 dan kini meneruskannya kepada sang anak.
“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000, anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.
Sebagai informasi, Tradisi Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2020 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penetapan itu mempertegas posisi Perang Obor sebagai identitas budaya Jepara yang terus menyala dari generasi ke generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....