Gendhing Banyumasan, Seni Tradisi yang Terwarnai Sunda dan Jawa

  • 07 Mei 2026 18:52 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, SEMARANG - Gendhing Banyumasan secara umum dapat dibedakan menjadi tiga warna garap, yaitu warna Banyumasan, warna wetanan (Surakarta-Yogyakarta) dan warna kulonan atau Sunda. Ini mengingatkan apa yang diungkapkan Anderson Sutton, bahwa kultur Banyumas sering dideskripsikan sebagai penduduk lokal dan percampuran antara Sunda dan Jawa.

Keberadaan ketiga warna garap tersebut mencerminkan bahwa Banyumas selain memiliki warna lokal yang bersumber dari tradisi setempat, juga mendapat pengaruh dari gendhing-gendhing wetanan maupun kulonan.

Salah satu warna lokal yang terdapat di dalam gendhing Banyumasan adalah adanya guritan. Di dalam kesusastraan, guritan dapat digolongkan ke dalam jenis puisi Jawa.

Demikian pula yang terjadi pada garap guritan pada sajian gendhing-gendhing Banyumasan, di dalamnya terdapat jenis-jenis puisi yang disajikan dalam bentuk tembang. Ada beberapa macam gendhing yang memiliki guritan di dalamnya, seperti Tlutur, Ilo Gondhang, Randha Nunut, Kembang Glepang, Sekar Gadhung dan lain-lain.

Pada sajian garap guritan terdapat spesifikasi berupa penonjolan vokal sindhen. Pada garap ini tidak seluruh instrumen ikut dimainkan.

Vokal sindhen dalam sajiannya dipadukan dengan garap vokal senggak dan atau garap kendhang. Di dalam bermusik dikenal apa yang disebut organisasi musikal, yaitu distribusi kedudukan masing-masing ricikan atau vokal, hubungan antar ricikan dan atau vokal.

Pada kasus guritan di dalam gendhing Banyumasan, model organisasi musikal dilakukan dengan melibatkan instrumen dalam jumlah terbatas. Sekalipun di dalam garap guritan hanya melibatkan instrumen dalam jumlah terbatas, namun demikian justru guritan menjadi salah satu bagian terpenting dari keseluruhan sajian.

Ini merupakan sebuah peristiwa penting yang hanya mungkin terjadi ketika seorang pengrawit melibatkan sense budaya dalam sajian. Seperti diungkapkan oleh Marc Perlman bahwa sense budaya diproduksi secara konsisten oleh tersebarnya bagan melintasi wilayah yang ditangkap para ahli di masa lalu di dalam gagasan seperti Zeitgeist, pandangan dunia, tema budaya, nilai inti atau cara berpikir.

Dengan demikian ketika seorang pengrawit menyajikan garap guritan, serta-merta di dalamnya akan terlibat hal-hal yang berada di luar wilayah musik. Yang mencakup pandangan dunia, tema budaya, nilai inti atau cara berpikir, yang semua itu menjadi dasar bagi keseluruhan orang Banyumas dalam kehidupan sehari-hari.

Didalam garap karawitan dan geguritan gagrag Banyumas hanya melibatkan instrumen dalam jumlah terbatas, namun demikian justru guritan menjadi salah satu bagian terpenting dari keseluruhan sajian. Berdasarkan struktur musik, garap guritan di dalam sajian gendhing Banyumasan mencerminkan adanya pengalaman individu seniman dalam konteks hubungan anter personal.

Seperti diungkapkan John Blacking, struktur musik merefleksikan hubungan antar manusia. Dalam konteks ini, sajian garap guritan memberikan gambaran adanya jalinan hubungan antar seniman baik di dalam maupun di luar wilayah musik.

Hasil sajian guritan tidak dapat dipisahkan dari nilainya sebagai ekspresi pengalaman estetik yang ada pada diri tiap-tiap seniman yang terlibat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....