Media Sosial Jadi Tantangan Baru dalam Menjaga Toleransi

  • 28 Apr 2026 11:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Derasnya arus informasi di media sosial kini menjadi tantangan baru dalam menjaga toleransi di tengah masyarakat. Berbagai platform digital dinilai kerap memunculkan informasi yang berpotensi memicu kesalahpahaman hingga konflik jika tidak disikapi secara bijak.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Salatiga, Noor Rofiq, mengungkapkan, perkembangan teknologi informasi membawa dampak signifikan terhadap dinamika toleransi. Ia menyebut media sosial menjadi salah satu sumber kerawanan yang perlu diantisipasi secara serius.

“Tantangan yang pertama adalah dari media, baik itu WhatsApp, Facebook, maupun Instagram. Kadang muncul berita-berita miring yang berkaitan dengan masalah toleransi,” ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 27 April 2026.

Menurutnya, informasi yang tidak terverifikasi atau bernuansa provokatif dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Kondisi ini berpotensi memicu kesalahpahaman bahkan konflik jika tidak ditangani dengan bijak.

Ia menegaskan, FKUB bersama tokoh agama dan masyarakat pun berupaya aktif membendung dampak negatif tersebut. Salah satunya melalui penguatan literasi serta pendekatan langsung kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

Selain itu, langkah tegas juga diambil untuk menjaga kondusivitas daerah. FKUB bersama pemerintah daerah dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sepakat tidak memberikan ruang bagi kelompok atau organisasi yang berpotensi menyebarkan paham intoleran.

Di sisi lain, upaya jangka panjang juga dilakukan dengan melibatkan generasi muda sebagai garda terdepan dalam merawat toleransi. FKUB tengah menyiapkan pembentukan Forum Pemuda Lintas Agama yang akan digerakkan di tiap kecamatan.

“Anak-anak muda sangat antusias. Kami akan deklarasikan Forum Pemuda Lintas Agama untuk mengkaji serta merawat toleransi di tingkat kecamatan,” ucapnya.

Melalui langkah tersebut, diharapkan nilai-nilai toleransi tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dan diwariskan ke generasi berikutnya. Dengan kombinasi penguatan literasi digital dan pelibatan pemuda, masyarakat diharapkan mampu menjaga harmoni di tengah tantangan era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....