Nyi Ageng Serang Putra Daerah dari Purwodadi, Grobogan
- 26 Apr 2026 12:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID - Semarang: Nyi Ageng Serang terlahir dengan nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi I. Ia merupakan putri dari Pangeran Natapraja penguasa daerah kerajaan Mataram persisnya di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah.
Ayahnya juga dikenal sebagai Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I. Ia salah satu turunan dari Sunan Kalijaga sekaligus menjadi murid Sunan Kalijaga semasa hidupnya.
Seorang pahlawan Nasioanl, R.M. Soewardi Surjaningrat atau yang lebih dikenal Ki Hajar Dewantara. Tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh di Indonesia adalah cucu dari Nyi Ageng Serang.
Cerita rakyat yang turun temurun diceritakan secara lisan menggambarkan bahwa Nyi Ageng Serang adalah tokoh Wanita sakti berjiwa heroik melawan penjajah. Memiliki sifat pantang mundur dalam perjuangannya, memiliki dedikasi yang besar, tegas, teguh dan keras pendirian dalam melawan penjajah.
Ia tokoh pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 M. Dalam peperangan melawan penjajah beliau bersama pasukannya dikenal dengan taktik perang kamuflase daun lumbu.
Ketika beliau diminta menjadi istri oleh R.M. Sundoro (Putera Mahkota Kraton Yogyakarta) dan diminta untuk menetap di Kraton. Nyi Ageng Serang dengan lembut dan hormat menjawab dengan pendiriannya “Apalah arti hidup kalau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, lebih baik membicarakan nasib rakyat”.
Jawaban Nyi Ageng Serang menjadikan Pangeran Sundoro merasa malu karena yang sering dipikirkan hanyalah soal cinta.
Jiwa patriotik dan semangat berjuang yang dimiliki Nyi Ageng Serang sudah tertanam sejak kecil dengan didikan orang tuanya. Bahkan sejak kecil beliau juga sudah ikut berlatih perang, bahkan beberapa kali terjun ke medan peperangan melawan penjajah.
Seiring bertambahnya umur, hati beliau semakin bergejolak untuk terus memperjuangkan kemerdekaan rakyatnya. Semangat patriotiknya yang menggelora dalam jiwa dicetuskan dalam semboyannya yakni “Biarkan aku mati dengan sukarela untuk kepentingan bangsaku seribu tahun nanti”.
Hampir seluruh bagian dari hidupnya beliau abdikan kepada kepentingan rakyat banyak. Demi tercapainya tujuan masa depan untuk bangsa dan negara, untuk generasi mendatang.
Sumber: Buku “Nyi Ageng Serang” karya Dra. Putu Lasminah SS (2007)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....