Hadapi Kecelakaan Laut, Relawan Rembang Perkuat Kesiapsiagaan Water Rescue

  • 30 Sep 2026 12:03 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Rembang: Potensi kecelakaan laut di Kabupaten Rembang perlu diantisipasi dengan kesiapan personel dan kemampuan penyelamatan yang memadai. Dengan garis pantai sekitar 65 kilometer, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang bersama Basarnas memperkuat kesiapsiagaan relawan melalui simulasi Search and Rescue (SAR) Laut di perairan Pantai Desa Tasikagung, Selasa 28 Septeeember 2026

Simulasi yang dipusatkan di Dermaga Pelabuhan Tasikagung tersebut melibatkan puluhan relawan dari berbagai komunitas. Kegiatan difokuskan pada peningkatan keterampilan pertolongan dan penyelamatan di wilayah perairan, terutama dalam menghadapi kecelakaan laut.

“Karena kita di Rembang ini punya garis pantai yang panjang, potensi laka laut juga tinggi. Makanya kami memberikan pembekalan sekaligus pengetahuan dan skill dalam rangka water rescue, terutama untuk laka laut,” ujar petugas dalam kegiatan tersebut.

Dalam simulasi, tim SAR gabungan dihadapkan pada skenario kapal nelayan mengalami kebocoran hingga tenggelam akibat cuaca buruk. Skenario juga menggambarkan adanya tumpahan minyak di laut yang membutuhkan penanganan petugas.

Setelah menerima laporan, tim SAR gabungan langsung bergerak menuju lokasi kejadian menggunakan perahu karet. Petugas melakukan pencarian terhadap korban yang dilaporkan berada di tengah laut sebagai bagian dari tahapan penanganan keadaan darurat.

Dalam proses pencarian, petugas berhasil menemukan dua korban yang terapung di laut. Keduanya kemudian dievakuasi menggunakan perahu karet menuju tempat aman untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Setelah korban berhasil dievakuasi, penanganan dilanjutkan dengan membawa korban ke posko kesehatan terdekat. Simulasi tersebut menggambarkan pentingnya koordinasi dan kecepatan tim SAR gabungan dalam menghadapi kecelakaan di wilayah perairan.

Salah seorang relawan, Mulyadi, mengaku memperoleh pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan water rescue. Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan kali pertama dirinya mengikuti pelatihan penyelamatan di perairan.

“Ikut pelatihan water rescue ini pertama kali, bertiga sama teman RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Pengalaman baru. RAPI sering mengikuti penanganan dan melaporkan setiap ada bencana, seperti tanah longsor, banjir dan laka laut,” ungkapnya.

Menurut Mulyadi, keterampilan yang diperoleh melalui simulasi dapat menjadi bekal bagi relawan ketika menghadapi kondisi darurat, khususnya kecelakaan di wilayah perairan. Kegiatan ditutup dengan evaluasi bersama untuk mengidentifikasi kekurangan selama simulasi sekaligus menjadi bahan perbaikan dalam menghadapi kemungkinan keadaan darurat di laut. (Mif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....