Wafat pada Usia Muda, Sang Perempuan Mulia Pejuang Emansipasi

  • 08 Agt 2026 03:04 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kartini menuliskan tentang penderitaan perempuan Jawa seperti harus menjalani pingitan. Tidak bebas dalam menuntut ilmu, dan adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Berkat kegigihan Kartini, pada tahun 1912 berdirilah Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini. Sekolah ini didirikan oleh keluaraga Van Deventer, salah satu tokoh politik etis saat itu.

Awalnya, Sekolah Kartini hanya didirikan di Semarang, tapi kemudian berdiri juga di Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Malang, dan daerah lainnya. Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat bupati Rembang saat itu.

Karena sudah menikah, gelar Raden Adjeng yang dimiliki Kartini berubah menjadi Raden Ayu. Meskipun sudah menjadi seorang istri, Kartini tetap ingin melanjutkan cita-citanya memperjuangkan kesetaraan perempuan dan menjadi guru.

Suami Kartini mendukung dan memberi kebebasan terhadap cita-citanya. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan mendirikan sekolah wanita di timur pintu gerbang perkantoran Rembang.

Setahun setelah menikah, R.A Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904. Sayangnya empat hari setelah melahirkan, Kartini menghembuskan napas terakhirnya.

Ia meninggal di usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kab. Rembang. Setelah R.A Kartini wafat, Mr. JH Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda) mengumpulkan data perjuangan Kartini.

Hinggan akhirnya Mr. JH Abendanon berhasil membukukan surat-surat yang dikirimkan Kartini ke teman-temannya di Belanda. Buku tersebut diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya Dari Kegelapan menuju Cahaya.

Diterbitkannya buku tersebut mulai mengubah cara berpikir masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi khususnya Jawa. Pada 2 Mei 1964, Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden No 108 tahun 1964 yang berisi ketetapan bahwa Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Soekarno juga menetapkan 21 April sebagai hari Kartini yang kita peringati setiap tahunnya sampai sekarang. Pemikiran Kartini juga menginspirasi terciptanya lagu Ibu Kita Kartini oleh W.R Supratman yang tentunya nggak asing di telinga kita, terutama pelajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....