TBRS: Bukan Cuma Warisan Budaya, Ini Ruang Publiknya Anak Muda

  • 09 Jul 2026 18:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dikenal sebagai “Gedung tua tempat wayang dan keroncong” bagi sebagian besar anak muda Semarang. Tetapi, sebutan “tempat gue” rasanya jauh dari kawasan tersebut.

Mahasiswa sibuk berebut dan mencari tempat publik untuk sekedar rapat, acara komunitas, bahkan sekadar beraktivitas di sekitar Semarang. Sementara itu, ada kawasan seluas hampir 9 hektar dengan berbagai fasilitas terbuka, namun hampir tidak pernah dilirik.

TBRS berdiri sejak 1998, berpotensi menjadi satu kawasan aktivitas anak muda. Namun, cenderung dikenal dengan wajah utamanya sebagai pusat pelestarian budaya.

Rutinitas wayang kulit, keroncong, serta kesenian lainnya membentuk citra TBRS sebagai tempat formal dan serius. Di samping itu, wajah kedua TBRS nyaris tidak pernah diingat sebagai ruang publik umum.

Wajah kedua ini tidak disembunyikan, tapi tenggelam akibat minim dokumentasi dan publikasi mengenai pemanfaatannya sebagai ruang publik umum. Hasilnya muncul permasalahan bahwa anak muda cenderung tidak mengetahui pemanfaatan kawasan TBRS.

Seharusnya TBRS memiliki banyak keunggulan sebagai ruang publik, posisi strategis, ruang luas, terbuka terhadap kolaborasi, fasilitas layak, dan masih banyak lagi. Dengan adanya fasilitas tersebut semestinya sudah cukup membuat tempat ini menjadi pilihan utama apabila publik mengenalnya.

Tempat ini tidak butuh renovasi gedung, tapi perlu melakukan pendekatan yang tepat dengan anak muda mengenai informasi pemanfaatannya. Dua wajah ini tidak perlu saling menggantikan, tetapi jalan berdampingan.

Sudah saatnya anak muda Semarang menjadikan TBRS sebagai tempat pilihan utama untuk berkreativitas, berkumpul, berkarya, dan beraktivitas. Pemanfaatan ruang publik oleh generasi muda akan menghidupkan tempat tersebut sebagai ruang kreatif generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....