Kaum Perempuan Muda Berperan Penting Rawat Moderasi Beragama di Era Digital

  • 27 Apr 2026 12:28 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Generasi muda memiliki peran yang krusial, untuk menjaga nilai-nilai moderasi beragama di masyarakat. Terutama bagi kaum perempuan, yang juga memiliki peran yang cukup penting dengan keterlibatannya mengacu pada struktur sosial yang ada di masyarakat.

Menurut Kabid Pemberdayaan Perempuan BEM UNDIP 2026, Annisa Paramitha, peran generasi muda saat ini dianggap menjadi norm entrepreneur. Secara teori generasi muda bisa menjadi aktor yang membentuk nilai moderasi, namun di sisi lain berada di ekosistem digital yang memproduksi polarisasi itu sendiri.

“Ada algoritma yang mendorong konten provokatif, dan akhirnya banyak anak muda yang menjadi konsumen bahkan penyebar narasi intoleran itu. Itu yang menjadi tantangan bagi anak muda, tapi sekaligus kita juga bisa menyebarkan nilai moderasi dan nilai-nilai beragama lainnya,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 21 April 2026.

Tata menjelaskan, perempuan kerap disebut lebih toleran, lantaran memiliki sisi emosional yang lebih kuat terhadap berbagai hal. Hal ini disebutnya menjadi suatu hal yang terbentuk secara sosial, sehingga menjadikan kaum perempuan lebih lekat terhadap isu-isu toleransi dan keadilan.

“Perempuan itu penting bukan karena kita lebih lembut, tapi karena posisi sosial yang membuat kita punya kedekatan emosi juga sama realitas tentang ketidakadilan dan keberagaman. Karena perempuan mencapai keadilan itu sendiri suatu hal yang masih perlu dengan effort di era sekarang, makanya kita sangat lekat sama sikap toleran terhadap perbedaan,” ucapnya.

Perempuan dalam menjaga toleransi dan kerukunan, menurut Tata terlihat dalam peran sebagai penengah secara informal. Ketika terjadi gesekan antar individu atau kelompok di masyarakat, perempuan dianggapnya bisa masuk dalam segala sisi.

“Karena kita bisa masuk secara perlahan, nggak lewat forum-forum terbuka yang keras tapi bisa lebih masuk ke temen-temen. Jadi kita lebih berusaha mendengarkan mereka, di sisi mendengar kita juga berusaha menghubungkan dan menyelesaikan gesekan dan perbedaan yang terjadi,” ujar Tata.

Selain itu, perempuan berperan menciptakan ruang inklusif untuk memastikan semua orang dapat didengar dalam banyak hal. Sensitivitas yang dimiliki perempuan menurut Tata menjadi sebuah kekuatan, sehingga bisa menciptakan ruang inklusif yang berguna untuk mediasi terhadap perbedaan di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....