Halalbihalal Rajut Nilai Toleransi di tengah Kemajemukan Masyarakat

  • 07 Apr 2026 09:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Selain menjadi sarana menyambung silaturahmi, halalbihalal dipandang menjadi cara merajut toleransi di masyarakat. Melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat majemuk yang cukup beragam, dipandang menjadi sarana membangun harmonisasi antarumat beragama.

Purnandya Arya Aji Scornova yang merupakan Direktur Bidang Penyiaran dan Publikasi LAPMI HMI Semarang menyebut, hal ini selaras dengan sejarahnya. Kegiatan halalbihalal digagas oleh tokoh-tokoh seperti KH Wahab Chasbullah dan diusulkan ke Ir. Soekarno, untuk menjadi momen pemersatu sekaligus rekonsiliasi.

“Jadi sebenarnya awal mula halalbihalal ini, DNA nya untuk mempersatukan dan rekonsiliasi gitu. Nilai-nilai saling memaafkan dan keterbukaan universalnya kerasa banget, nggak eksklusif untuk golongan tertentu jadi bisa diterapkan di masyarakat yang majemuk,” ujar Arya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 31 Maret 2026.

Cara yang bisa dilakukan sendiri menurutnya bermacam-macam, terutama di lingkup kampus yang cukup beragam latar belakangnya. Kegiatan-kegiatan bersama yang bisa mewadahi orang-orang dengan bermacam latar belakang, bisa menjadi cara untuk mengusung nilai-nilai toleransi.

“Kita bikin kegiatan yang isinya makan bareng, atau ngobrol-ngobrol santai itu bahasa-bahasa universal. Jadi kalau mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang kepercayaan diundang, bisa duduk bareng tanpa batasan apapun disitu toleransi kita bisa terealisasi,” kata Arya.

Memanfaatkan ruang-ruang yang positif untuk membangun toleransi, membuat halal bihalal dipandang efektif untuk mempersatukan umat. Selain itu, kegiatan ini juga bisa membangun kebersamaan, sehingga harmonisasi bisa terjaga di tengah perbedaan latar belakang dan keyakinan.

“Halal bihalal menurutku adalah melting pot, hal yang bisa melebur semua perbedaan menjadi satu. Setelah kita kumpul bareng dan ngobrol duduk bersama, identitas kita harus kita lebur dan nggak lagi melihat daerah atau kepercayaan mana namun sebagai manusia yang saling memanusiakan,” ujar Arya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....