Nyadran di Semarang: Harmoni, Tradisi dan Religi

  • 10 Feb 2026 08:54 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Tradisi Nyadran kembali digelar masyarakat di sejumlah wilayah Semarang menjelang bulan Ramadan tahun ini. Kegiatan ini melibatkan tokoh agama dan warga setempat sebagai bagian dari pelestarian budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam kajian Koentjaraningrat tentang tradisi Jawa yang banyak dirujuk dalam Jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada, Nyadran dipahami sebagai ritual sosial-keagamaan yang mengandung unsur doa bersama dan penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa dalam menyambut momentum keagamaan.

Nyadran berfungsi sebagai ruang berkumpul untuk mendoakan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Penelitian Dewi Yuliati dalam Jurnal Paramita Universitas Negeri Semarang menyebut tradisi seperti Nyadran berperan menjaga solidaritas sosial dan kesinambungan nilai budaya lokal.

Kegiatan biasanya diawali dengan gotong royong membersihkan makam dan lingkungan sekitar sejak pagi hari. Studi dalam Jurnal Sosiologi Reflektif UIN Sunan Kalijaga mencatat bahwa aktivitas gotong royong dalam ritual tradisional memperkuat rasa kepemilikan dan kebersamaan warga.

Setelah kerja bakti, warga mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Tradisi ini menunjukkan perpaduan antara nilai budaya lokal dan ajaran Islam yang telah lama berakulturasi dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Beberapa daerah juga menggelar arak-arakan kecil sebagai bagian dari tradisi yang tetap dilestarikan. Penelitian dalam Jurnal Kebudayaan Jawa menyebut simbol-simbol dalam prosesi Nyadran memiliki makna spiritual sekaligus sosial yang mengikat masyarakat lintas generasi.

Para tokoh masyarakat menilai Nyadran bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi media untuk memperkuat nilai gotong royong serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan sesama.

Nyadran juga menjadi daya tarik budaya yang mampu menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Tradisi ini memberi pengalaman spiritual sekaligus edukatif mengenai kekayaan budaya masyarakat Semarang. (Diva)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....