Tak Sekadar Tradisi, Halalbihalal Jadi Wujud Nyata Ibadah Sosial

  • 06 Apr 2026 07:48 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Momen Halalbihalal tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi merupakan wujud nyata ibadah sosial yang sarat makna, terutama dalam mempererat hubungan antarsesama. Hal ini disampaikan Ketua Pembina Yayasan Alqodar Sendangmulyo, KH Dr Taufiqurrahman, dalam kegiatan Halalbihalal di Masjid Jami’ Alqodar Sendangmulyo, Tembalang, Kota Semarang, Minggu, 5 April 2026.

Di hadapan ratusan jemaah, KH Taufiqurrahman menegaskan, halalbihalal menjadi momentum penting untuk menyelesaikan persoalan antarsesama manusia yang tidak cukup hanya dengan istighfar.

Menurutnya, kesalahan kepada sesama manusia memiliki konsekuensi berbeda dengan dosa kepada Tuhan. Oleh karena itu, halalbihalal menjadi ruang untuk merendahkan ego, mengakui kesalahan tanpa pembelaan, serta saling membuka pintu maaf.

”Kesalahan kepada manusia tidak akan pernah bisa terhapus dengan membaca 1.000 kali istighfar. Di Halalbihalal inilah kita merendahkan ego, mengakui salah tanpa pembelaan, dan mengetuk pintu hati orang lain dengan kalimat ‘maafkan saya’,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan menjalani ibadah Ramadan dapat dilihat dari perubahan kualitas diri setelahnya, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Ramadan, lanjutnya, dapat diibaratkan sebagai madrasah yang membentuk pribadi muslim menjadi lebih baik.

”Bagi yang lulus, maka kecerdasan intelektualnya (Intelligence Quotient) akan meningkat. Selain itu, kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritualnya (Spiritual Quotient) menjadi lebih baik,” katanya.

Lebih lanjut, KH Taufiqurrahman memaparkan empat tahapan dalam membangun ukhuwah Islamiyah yang kuat. Keempatnya yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu), dan takaful (saling melengkapi dan menjamin).

Ia mengajak jemaah untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan bertetangga. Hal sederhana seperti menjaga salat berjamaah, menebarkan salam, dan meningkatkan kepedulian sosial dinilai menjadi kunci memperkuat persaudaraan.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran yang menambah kekhusyukan suasana di Masjid Jami’ Alqodar. Acara ini ditutup dengan ramah tamah antarwarga sebagai simbol meleburnya kesalahan dan dimulainya lembaran baru yang lebih suci.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....