Tradisi Doa Leluhur Jelang Ramadhan
- 30 Jan 2026 17:35 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Menjelang bulan Ramadhan suasana di berbagai pelosok daerah di Indonesia berubah menjadi lebih khidmat dan reflektif. Tradisi mendoakan leluhur atau yang sering disebut ndengan nyekar, ruwahan atau punggahan menjadi ritual tahunan yang tidak terpisahkan dari napas budaya masyarakat.
Fenomena ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah jembatan spiritual yang menghubungkan dengan leluhur dalam ikatan doa yang tulus. Secara filosofis tradisi ini merupakan bentuk pembersihan diri sebelum memasuki bulan penuh keberkatan.
Dengan mengunjungi makan dan memanjatkan doa, umat Muslim diingatkan akan hakikat kematian dan kefanaan dunia. Kesadaran ini diharapkan mampu menekan ego dan kesombongan sehingga seseorang dapat melangkah ke bulan puasa dengan rendah hati, jernih dan siap menerima limpahan rahmat Allah SWT.
Pelaksanaannya juga sering melibatkan kebersamaan keluarga besar yang jarang berkumpul di hari biasa. Momen ini menjadi ajang silaturahmi dimana anggota keluarga bergotong royong membersihkan nisan, berdoa dan ditutup makan bersama.
Praktik ini mempererat solidaritas sosial dan memastikan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang beruntung. Dibalik ritual fisik tersebut terdapat pesan moral yang kuat tentang penghormatan kepada orang tua dan nenek moyang menegaskan bahwa jasa-jasa mereka tetap abadi meski raga telah tiada.
Pada akhirnya tradisi doa leluhur jelang Ramadhan adalah perpaduan harmonis antara ajaran agama dan kearifan local. Dengan batin yang tenang dan hubungan yang harmoni baik kepada Tuhan, sesama manusia, maupun sejarah keluar seseorang akan lebih siap menjalani ibadah puasa dengan penuh kekhusyukan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....