Kembangkan Pertanian Terpadu, Agustina Minta Hasil Panen Warga Terhubung ke Pasar

  • 02 Okt 2026 20:47 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong pengembangan pertanian terpadu (integrated urban farming) Metode BSM (Bayu Sehat Mandiri) yang menggabungkan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu pola pengelolaan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Agustina saat memberikan arahan dalam Coaching Clinic dan Pelatihan Pertanian Terpadu Metode BSM di Balai Kota Semarang, Kamis 1 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, wali kota menghadirkan pakar pertanian terpadu Bayu Diningrat untuk memperkaya pembelajaran kelompok tani sekaligus menyiapkan pendamping yang akan mengikuti training of trainers (TOT).

Agustina menilai keberhasilan pertanian terpadu perlu dilihat sampai pada tahap setelah panen. Hasil budidaya masyarakat, seperti sayuran, cabai, dan lele, perlu memiliki jalur penyerapan yang jelas agar hasil produksi tidak berhenti setelah dipanen.

“Keberhasilan dari pertanian terpadu, pertanian, ternak dan perikanan itu juga harus disiapkan skema pasarnya. Jangan sampai hasil panennya sia-sia. Kita harus membangun jaringan dan menetapkan jaringan, kalau ada produk harus ada pasar,” ujarnya.

Untuk menyiapkan rantai pasar tersebut, pihaknya meminta perangkat daerah terkait duduk bersama menyusun pola pengelolaan dari produksi hingga penyerapan hasil. Kempling Semar akan menjadi salah satu jaringan awal untuk menampung hasil produksi masyarakat, sebelum dikembangkan ke jaringan pasar yang lebih luas.

Untuk tahap awal, pihaknya menargetkan pengajuan dan pemetaan lahan produktif dapat diselesaikan pada Januari 2027. Pola tanam terpadu kemudian mulai dijalankan pada Februari 2027. Program tersebut akan menjadi percontohan yang dievaluasi pada akhir 2027 untuk dikembangkan pada 2028.

Agustina mengatakan pengembangan pertanian perkotaan juga dapat membantu menjaga ketersediaan pangan dan menghadapi perubahan kondisi yang sulit diprediksi. Karena itu, ia meminta perangkat daerah terkait bekerja bersama dalam menyiapkan pola pertanian terpadu yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing.

“Sekarang zamannya, collab, kolaborasi. Collab yang memiliki impact. Kolaborasi yang berdampak,” katanya.

Ia berharap Metode BSM dapat menjadi pola baru dalam pengelolaan lahan produktif di Kota Semarang, dengan hasil produksi yang tersambung ke jaringan pasar.

“BSM ini nanti memberi kita sebuah cara pandang yang baru terhadap cara pandang dalam pengelolaan lahan yang terintegrasi. Ternak, tanaman, perikanan, disambung kalau panen, nanti ke Kempling Semar, Pak Rahman, atau ke pasar manapun. Tapi ingat pokoknya, jangan sampai hasil panennya sia-sia,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....