Siaga Hadapi Merapi, BPBD Magelang Siapkan Konsep Desa Bersaudara
- 10 Sep 2026 13:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Magelang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menyiapkan konsep desa bersaudara sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman Gunung Merapi. Konsep tersebut mempertemukan desa di kawasan rawan bencana dengan desa penyangga yang disiapkan sebagai lokasi penerima pengungsi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Magelang, Bayu Eko Prihanto, mengatakan kesiapsiagaan terus diperkuat, khususnya di wilayah yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi. BPBD secara intensif berkoordinasi dengan BPPTKG untuk memperoleh informasi terbaru mengenai aktivitas dan potensi bahaya Merapi.
Menurut Bayu, koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah desa, relawan, serta komunitas kebencanaan, terutama yang berada di wilayah KRB 3. Mekanisme kesiapsiagaan telah dibangun bersama pemerintah desa dan masyarakat, termasuk dengan desa yang menjadi penyangga jika sewaktu-waktu diperlukan evakuasi.
“Pemerintah desa bersama masyarakat juga telah memiliki mekanisme kesiapsiagaan. Termasuk koordinasi dengan desa penyangga atau desa bersaudara apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi,” ujar Bayu dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 8 September 2026.
Ia menjelaskan, desa bersaudara merupakan kerja sama antara desa yang berada di kawasan rawan bencana Merapi dengan desa yang menjadi lokasi penyangga atau penerima pengungsi. Skema tersebut disiapkan agar proses evakuasi dapat berlangsung lebih terarah apabila kondisi Merapi mengharuskan masyarakat meninggalkan wilayahnya.
Selain konsep desa bersaudara, BPBD Kabupaten Magelang juga telah menyiapkan sejumlah kebutuhan pendukung evakuasi. Di antaranya tempat pengungsian, titik kumpul, jalur evakuasi, pendataan warga, hingga berbagai sarana pendukung lainnya.
Kesiapan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi karena status Gunung Merapi saat ini masih Siaga. Bayu menegaskan kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, tetapi melalui pemantauan, koordinasi, dan pengecekan secara berkala agar respons dapat dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi.
Dalam pelaksanaannya, BPBD tidak bekerja sendiri. Pemerintah desa menjadi ujung tombak karena berada paling dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi wilayah, sedangkan relawan memiliki peran dalam pemantauan, penyebaran informasi, edukasi, pendampingan masyarakat, hingga membantu proses evakuasi jika diperlukan.
Bayu mengingatkan masyarakat di kawasan rawan bencana Merapi untuk tetap tenang namun tidak lengah. Warga diminta mengikuti informasi dan rekomendasi dari sumber resmi, mengenali potensi bahaya, serta mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul sehingga siap bertindak apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas Merapi.
“Yang penting tidak panik, tetap waspada, siapkan diri serta keluarga. Keselamatan masyarakat adalah tetap yang utama,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....