Desain Bangunan Jadi Bagian Penting dalam Upaya Mitigasi Bencana

  • 09 Sep 2026 07:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ketahanan terhadap bencana dinilai perlu menjadi pertimbangan utama dalam merancang sebuah bangunan, sebelum memperhatikan aspek estetika. Pemilihan struktur, bentuk bangunan, hingga sistem drainase dapat menentukan tingkat keamanan bangunan ketika menghadapi ancaman bencana.

Menurut La Java Komarudin yang merupakan seorang Junior Arsitek, arsitektur dan kebencanaan memiliki hubungan yang cukup dalam. Sebab keselamatan dan ketahanan bencana disebutnya menjadi akar dari profesi arsitek, sebelum memperhatikan segi estetika bangunan sehingga manusia yang hidup bisa aman didalamnya.

“Kalau kita tarik ke sejarah, pada rumah panggung di Nusantara itu bukan dibuat karena terlihat unik, tetapi karena leluhur kita itu paham lahan yang akan mereka tempati rawan banjir, kemudian, sering kena sasaran hewan buas. Contohnya, rumah tahan gempa di Nias yang strukturnya lentur dan bisa bergoyang mengikuti guncangan,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Rabu, 2 September 2026.

Setiap keputusan desain menurut Java adalah keputusan resiko yang diambil, yang memiliki konsekuensi fisik secara nyata. Ia mencontohkan denah bangunan yang simetris, cenderung akan lebih stabil dalam menghadapi guncangan gempa dibanding dengan bentuk yang tidak simetris.

“Karena di situ tuh gaya guncangannya terdistribusi lebih merata, bentuk rumit yang diatas kertas itu titik sudutnya jadi area konsentrasi tegangan yang gampang retak duluan. Sehingga jumlah dan posisi bukaan dinding dengan terlalu banyak jendela besar di satu sisi, bakal kehilangan kekakuan strukturnya jadi lebih rentan roboh,” ujarnya.

Selain itu, aspek teknis yang terkait dengan ketahanan bencana juga dilihat dari sisi arah mata angin dan matahari. Menurut Java, bangunan yang menghadap langsung ke arah angin kencang tanpa perlindungan akan menerima beban angin yang besar dan meningkatkan resiko kerusakan bangunan.

“Ada juga kemiringan dan drainase di bangunan tersebut, di mana desain yang tidak memperhitungkan kemana air mengalir akan membuat bangunan tersebut tergenang. Meskipun di kertas yang kita gambar sebagai arsitek terlihat rapi, tetapi ketika membangun itu yang menjadi poin yang menjadi titik krusialnya,” kata Java.

Java tidak memungkiri, bangunan yang terlihat bagus, tidak serta merta otomatis aman dari segi keamanan. Ia menjelaskan dinding bata ekspos yang kini kerap digunakan karena terlihat kokoh dan estetik, tetap membutuhkan rangka kolong balok yang benar agar tidak mudah runtuh dalam pecahan besar.

“Sebaliknya bangunan yang berbahan sederhana, seperti rumah tradisional dari kayu dengan sambungan yang benar itu bisa jauh lebih aman saat gempa. Karena strukturnya itu kan lentur, meski secara visual terlihat kurang mewah,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....