Tidak Hanya Rajin Ibadah, Kesalehan Beragama Juga Diukur dari Kepedulian Sosial

  • 11 Agt 2026 07:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kesalehan beragama tidak hanya tercermin melalui kepatuhan dalam menjalankan ibadah, tetapi juga dari perilaku manusia dalam kehidupan sosial. Kepedulian, sikap saling menolong, dan menjaga hubungan dengan sesama menjadi bagian dari nilai kesalehan yang diajarkan agama.

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Salatiga, Dzikry Zainal Haris menyebut jika kesalehan bermuara pada kepatuhan dalam beribadah dan menjalankan nilai agama dalam keseharian. Hal ini dipandang tidak sebatas terhadap hubungan kepada Tuhan, namun juga hubungan antar manusia.

“Kesalehan bukan berarti hanya beribadah kepada Tuhan, akan tetapi kita sebagai makhluk sosial harus ada ibadah secara sosial. Seperti kita berbuat baik kepada orang, kita menolong orang itu kan menjadi ibadah sosial yang diajarkan oleh agama kita,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 4 Agustus 2026.

Sebagai makhluk sosial, Dzikry mengamini manusia tetap membutuhkan waktu untuk memperhatikan aspek sosial dalam hidup. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menjaga hubungan antar manusia, yang dalam Islam disebut dengan hablum minannas.

“Karena mungkin seluruh agama di dunia ini, itu menganjurkan yang namanya hablum minannas. Karena nggak mungkin dong agama itu mengajarkan sesuatu yang jelek-jelek, pasti pengen umatnya itu menjadi yang terbaik setelahnya,” ucapnya.

Dalam Al-Qur’an sendiri, ia menyebut bahwa keterkaitan antara ibadah ritual dan sosial muncul dalam surat Al-Baqarah ayat 177. Ayat tersebut menjelaskan secara rinci, bahwa kesalehan secara ritual juga perlu diikuti dengan kesalehan secara sosial.

“Allah itu bukan hanya menganjurkan kita untuk ibadah ritual saja, tapi kita juga harus ada yang namanya ibadah sosial. Makanya ketika kita beriman kepada Allah, di situ ketika kita punya lebih harta maka kita harus saling berbagi kepada kerabat atau anak yatim yang membutuhkan pertolongan kita,” kata Dzikry.

Indeks Kesalehan Umat Beragama sendiri diukur dari dimensi individual dan sosial, yang dianggap keduanya cukup penting. Menurut Dzikry, kedua hal ini sudah cukup berjalan dengan beriringan di lingkungan sekitar sehingga menunjukkan adanya keseimbangan dalam kesalehan.

“Sepemahaman saya religius berkaitan dengan sikap atau nilai dari ajaran agama, dan ketika orang itu menjatuhkan orang lain atau menjelek-jelekkan orang lain. Itu bagi saya belum termasuk orang yang religius, karena tidak sesuai dengan ajaran agama,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....