Krisis Iklim dan Penurunan Tanah Ancam Kawasan Pesisir Semarang-Demak

  • 12 Jun 2026 16:19 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang - Kawasan pesisir Semarang-Demak menghadapi ancaman yang semakin serius akibat krisis iklim dan penurunan muka tanah. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan rob semakin sering terjadi, mengancam permukiman warga, serta menggerus lahan produktif di wilayah pesisir.

Dampak dari kondisi tersebut kini semakin dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Warga terpaksa melakukan berbagai bentuk adaptasi untuk mempertahankan tempat tinggal maupun sumber penghidupan mereka.

Kaprodi Magister Perencanaan Lingkungan dan Perkotaan Soegijapranata Catholic University, Dr. Hotmauli Sidabalok, mengatakan persoalan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim. Penurunan muka tanah akibat beban pembangunan dan pengambilan air tanah juga mempercepat terjadinya genangan di kawasan pesisir.

Menurutnya, masyarakat selama ini berupaya beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah. Mulai dari meninggikan rumah hingga mengubah sumber mata pencaharian agar tetap dapat bertahan hidup.

"Kami melihat warga itu beradaptasi dengan lingkungan, karena terpaksa. Pesisir bibir pantai itu sekarang sudah menjorok ke arah daratan, kurang lebih sudah 3-4 km, bahkan ada yang sampai 7 km," ujar Ketua Konsorsium Pluralizing Knowledge itu, Kamis, 11 Juni 2026.

Nelayan Tambakrejo Semarang, Abdullah Ahmad Marzuki, mengaku perubahan kondisi pesisir telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Hasil tangkapan ikan terus menurun sehingga banyak nelayan kini bergantung pada budidaya dan pencarian kerang hijau sebagai sumber penghasilan utama.

Selain menghadapi perubahan mata pencaharian, warga juga harus hidup berdampingan dengan ancaman rob yang datang hampir setiap hari. Berbagai upaya dilakukan secara mandiri, termasuk meninggikan rumah dan memperbaiki akses lingkungan.

"Nelayan dahulu bisa mendapatkan ikan melimpah, sekarang enggak bisa lagi dan bertahan di komoditas yang dahulu aslinya buat sampingan, kayak kerang. Kerang itu dulu kan kalau nelayan agak sepi ikannya nggak banyak, cari kerang hijau," ujarnya.

Sementara, peneliti dan pendamping warga, Eka Handriana, mengatakan masyarakat pesisir sesungguhnya memiliki pengetahuan dan pengalaman penting dalam menghadapi dampak krisis iklim. Namun, pengetahuan tersebut sering kali belum menjadi bagian dari pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

Ia menggambarkan kondisi rumah warga di Dukuh Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang harus terus beradaptasi dengan naiknya permukaan air laut. Sebagian warga bahkan memilih pindah karena tidak lagi mampu bertahan dengan kondisi tersebut.

"Jadi rumahnya tinggal setengah karena lantainya dinaikkan 1,5 m, plafonnya dijebol untuk mendapatkan ruangan yang lebih luas. Kehidupannya begitu, lambat laun warganya berkurang, yang mampu itu pindah, tapi yang tidak punya tanah, ya di situ," ucapnya.

Ia menegaskan, penanganan krisis iklim di pesisir Semarang-Demak membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, industri hingga masyarakat. Solusi yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan kebutuhan warga yang hidup di kawasan terdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....