Menjaga Lingkungan Tidak Cukup Hanya Lewat Kampanye di Media Sosial

  • 12 Apr 2026 10:18 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang - Upaya menjaga lingkungan kini tidak cukup hanya sebatas kampanye di media sosial, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata. Hal ini yang didorong oleh DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah melalui berbagai gerakan berbasis kolaborasi.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Jawa Tengah, Agung Sentiko mengatakan, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pengamat. Namun juga harus hadir sebagai penggerak perubahan di tengah krisis lingkungan, minimal mulai dari diri sendiri.

Ia menyebutkan, berbagai isu seperti rob di kawasan Pantura hingga bencana longsor di wilayah pegunungan menjadi perhatian serius yang perlu dikawal bersama. Kondisi tersebut menuntut peran aktif mahasiswa untuk tidak hanya bersuara, tetapi juga terlibat langsung di lapangan.

Menurut dia, IMM Jawa Tengah pun mendorong gerakan kolaboratif dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, hingga pemerintah sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini dinilai penting agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh dan berkelanjutan.

"Di mana IMM Jawa Tengah itu tetap memposisikan di diri sebagai moral force sekaligus social control. Kami tidak ingin hanya menjadi pemadam kebakaran yang datang ketika konflik pecah, namun juga ingin menjadi penyulut kesadaran," ujarnya.

Sejumlah aksi nyata telah dilakukan, seperti program penanaman pohon, pelatihan lingkungan, hingga inovasi green kurban yang mengolah limbah menjadi energi dan pupuk. Upaya tersebut menjadi bukti bahwa gerakan mahasiswa dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

"Kalau kita harus siap ya, karena kita tidak punya pilihan lain, krisis iklim itu tidak menunggu kita untuk lulus ataupun kita mencapai target kita. Kesiapan mental generasi terlihat sudah mulai beralih dari sekedar pengamat menjadi pelaku," tuturnya.

Namun, Agung mengakui tantangan terbesar masih pada konsistensi gerakan mahasiswa yang kerap terbentur realitas di lapangan. Mulai dari birokrasi hingga budaya instan di kalangan anak muda menjadi hambatan dalam menjaga keberlanjutan aksi.

"Untuk konsistensi sendiri antara idealis versus realitas itu sebenarnya tantangan yang terbesar dan kelemahan struktural dan narasi instan. Di mana realitas lapangan seringkali mahasiswa bersemangat di awal namun ketika sudah dihadapkan birokrasi dan juga intimidasi di lapangan itu menjadi surut gitu menjadi mundur," ucapnya.

Karena itu, pihaknya terus mendorong lahirnya kader-kader muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata. Krisis lingkungan tidak bisa ditunda dan generasi muda harus siap menjadi penentu arah masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....