Anak Muda Berperan Krusial Jaga Ruang Digital dari Intoleransi
- 26 Mei 2026 09:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Generasi muda sebagai pengguna media sosial terbesar dianggap memiliki peran krusial untuk menjaga ruang digital. Apalagi, perilaku intoleransi lewat digital ternyata memiliki dampak yang cukup besar, baik secara sosial ataupun digital.
Sekretaris Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam Semarang, Hazel Jasmi menyebut, semakin banyaknya perilaku intoleransi yang terjadi di dunia digital. Akhirnya perilaku tersebut dinormalisasikan dan dianggap sebagai hal yang wajar.
“Jadi orang yang setiap hari terpapar konten intoleran, akan memandang hal tersebut menjadi pandangan yang wajar. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak hubungan sosial seperti antar tetangga, rekan kerja, atau bahkan dalam keluarga sekaligus,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membedakan konten di media sosial. Ia menjelaskan, konten edukatif menggunakan sumber yang jelas dan bahasa yang mengajak berpikir, sedangkan konten provokatif cenderung menggunakan kalimat yang memancing emosi dan mendorong untuk reaktif.
“Kalau misal ada sebuah konten yang langsung membuat trigger membuat kita marah, atau langsung ingin share tanpa adanya kita crosscheck dulu. Nah, itu tanda-tanda konten yang harus kita waspadai, itu konten-konten yang nggak bener,” kata Hazel.
Generasi muda dipandang Hazel punya peran besar untuk menjaga ruang digital tetap aman dan lebih inklusif. Peran sentral sebgai pengguna media sosial paling aktif saat ini, dianggap dapat menjadi penggerak untuk menciptakan iklim positif di ruang digital saat ini.
“Ada banyak warna di ruang digital kita, yang ditentukan oleh pilihan-pilihan anak muda setiap harinya. Kita sebagai generasi muda juga punya kemampuan kreatif yang luar biasa, untuk mengemas pesan toleransi dalam format video atau konten yang relevan dengan jamannya kita,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....