Intoleransi dan Konflik Sosial Berpotensi Picu Trauma Kolektif

  • 19 Mei 2026 07:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Terjadinya tindakan atau perilaku intoleransi, nyatanya dapat memiliki dampak secara psikologis bagi individu atau kelompok. Tindakan yang berulang-ulang dilakukan pada kelompok minoritas, bisa menimbulkan luka psikologis yang berdampak pada trauma baik individu atau secara kolektif.

Menurut psikolog klinis, Maya Arrizqina Fauzia, M. Psi, perilaku intoleransi menjadi suatu hal yang membuat seseorang merasa terancam. Dari sudut pandang psikologi, hal ini memiliki pengaruh yang besar terutama gangguan kecemasan atau trauma sosial.

“Karena bayangin ketika kita ada di sebuah ruangan, terus kita ngerasa tidak dianggap atau tidak diterima orang lain. Lama-lama ketika itu terus muncul setiap hari, kita jadi takut membuka diri dan takut merasa tidak diterima,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 12 Mei 2026.

Frekuensi tindakan yang berulang-ulang atau disebut dengan microaggression, memicu terjadinya luka psikologis terhadap korbannya. Pada individu atau masyarakat yang mendapatkan perilaku intoleransi atau diskriminasi, luka psikologis tersebut membuat munculnya berbagai dampak psikologis.

“Banyak sekali yang muncul bisa rendah diri, malu, ketakutan menunjukkan identitas diri, cemas, takut semua itu muncul jadi satu. Kalau ini terjadi berulang-ulang seseorang bisa mengalami hyper-vigilance, itu adalah kondisi dimana seseorang aktif terus mode ancaman dan waspadanya di lingkungan sosial,” kata Maya.

Jika dilihat dari fenomena yang lebih luas tentang konflik sosial, hal tersebut dapat memunculkan trauma kolektif. Ketika sebuah kelompok merasakan luka psikologis yang sama, trauma yang dirasakan dari tindak intoleransi itu akan terus berjalan seiring waktu.

“Bentuknya kita jadi mudah terprovokasi, kita jadi takut untuk ikut ke kelompok yang lebih mayoritas terutama bagi yang minoritas. Jadi ketika kita mau melibatkan diri didalam suatu kelompok, rasanya kita tidak diterima karena perbedaan itu,” ujar Maya.

Trauma kolektif bisa juga terjadi secara turun temurun, karena luka psikologis yang muncul diceritakan kepada anak. Hal tersebut memang adalah bentuk perlindungan diri pada keluarga, namun cerita dari dampak konflik bisa tetap tinggal pada pemikiran jika tidak diatasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....