Capaian MBG 3B di Jateng Masih 43 Persen, Distribusi Jadi Tantangan Utama

  • 23 Apr 2026 11:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD(3B) di Jawa Tengah masih memiliki tantangan dari sisi distribusi. Kendala tersebut menyebabkan capaian program ini baru berada di kisaran 43 persen.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) Jawa Tengah, Rusman Effendi, mengatakan capaian tersebut masih perlu ditingkatkan melalui dukungan berbagai pihak. Terutama, dalam memperkuat pemahaman bahwa MBG tidak hanya diperuntukkan bagi anak sekolah.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa program MBG juga menyasar kelompok 3B. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi belum optimalnya pelaksanaan program di lapangan.

"Saat ini, SPPG yang sudah menggunakan sasaran 3B memang baru di angka 43 persen. Nah, ini memang masih perlu dukungan dari semua pihak agar bagaimana semua dapur-dapur SPPG ini nanti juga melaksanakan untuk sasaran 3B," ucapnya saat ditemui RRI, Selasa, 22 April 2026.

Ia menjelaskan, distribusi MBG untuk sasaran 3B memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dengan anak sekolah. Proses penyaluran harus melalui beberapa tahapan mulai dari dapur SPPG hingga ke penerima manfaat.

“Untuk sasaran 3B ini memang distribusinya lebih kompleks karena tidak terpusat seperti di sekolah. Dari dapur SPPG harus ke titik distribusi, kemudian dibantu kader untuk diantarkan ke rumah-rumah sasaran,” ujarnya.

Ia menambahkan, posyandu menjadi salah satu titik distribusi utama dalam penyaluran MBG 3B. Namun, karena kegiatan posyandu tidak berlangsung setiap hari, maka peran kader pendamping keluarga menjadi sangat penting dalam distribusi harian.

"Memang sebulan sekali, tapi nantinya itu sama harinya seperti anak sekolah, dari dapur kemudian diantarkan ke titik tertentu. Di titik posyandu sudah siap kader-kader pendamping keluarga, nanti akan mengantarkan dari titik-titik tersebut ke rumah-rumah sasaran," ujarnya.

Ia menjelaskan, TPK (Tim Pendamping Keluarga) terdiri dari 3 orang dalam satu kelompok, yaitu kader KB, bidan, dan PKK. Di Jawa Tengah, jumlahnya ada 27.938 kelompok atau 83.802 orang.

Dengan penguatan sosialisasi dan distribusi, diharapkan program ini dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Hal ini sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....