Antisipasi Kemarau Lebih Kering, Gubernur Jateng Cek Kesiapan Embung
- 08 Apr 2026 21:40 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi lebih kering mulai April 2026, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung mengecek kesiapan embung. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan air baku dan irigasi tetap aman bagi masyarakat dan sektor pertanian.
Luthfi meminta seluruh jajarannya melakukan pengecekan menyeluruh terhadap embung dan saluran irigasi di berbagai daerah. Ia menekankan pentingnya langkah antisipasi agar kebutuhan air selama musim kemarau tetap terpenuhi.
“Saya ingin betul-betul memastikan, cek dan recek embung yang ada. Embung merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun persawahan,” kata Luthfi saat meninjau Embung Alastuwo di Karanganyar, Rabu, 8 April 2026.
Embung Alastuwo yang dibangun pada 2017 memiliki kapasitas tampung sekitar 6.723,30 meter kubik. Fasilitas ini menjadi sumber air bagi 186 kepala keluarga serta mengairi lahan pertanian seluas 35 hektare saat musim kemarau.
Menurut Luthfi, pembangunan embung terus dilakukan untuk memperkuat ketahanan air di Jawa Tengah. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, tercatat sudah ada 12 embung baru yang dibangun di sejumlah wilayah.
Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum mencukupi untuk menjangkau seluruh daerah yang membutuhkan. Ia pun meminta bupati dan wali kota segera mengusulkan pembangunan embung baru jika masih terdapat wilayah kekurangan air.
“Saya sudah wanti-wanti, kalau masih ada masyarakat yang butuh embung segera diusulkan dan akan kita anggarkan,” jelasnya. Ia menegaskan pembangunan akan diprioritaskan sesuai kebutuhan daerah.
Selain pembangunan, Luthfi juga memastikan embung yang sudah ada dapat berfungsi optimal. Termasuk, memastikan saluran irigasi menuju lahan pertanian dalam kondisi baik dan siap digunakan.
Keberadaan embung dinilai berperan penting dalam menjaga produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi. Hal ini sejalan dengan target produksi padi Jawa Tengah tahun 2026 yang ditetapkan mencapai 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG).
“Ini sangat membantu sekali, karena kita ingin swasembada pangan tercapai kembali. Tahun lalu produksi hampir 9,7 juta ton atau sekitar 15,6 persen kebutuhan nasional,” ucapnya.
Untuk memperkuat kesiapan menghadapi kemarau, Luthfi juga berkoordinasi dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Kodam IV/Diponegoro melalui program pipanisasi dan sumurisasi hingga dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi air.
Sementara itu, seorang petani di Kecamatan Tasikmadu, Admin, mengaku keberadaan Embung Alastuwo sangat membantu aktivitas pertanian. Embung tersebut menjadi sumber air penting terutama pada musim tanam kedua dan ketiga yang bertepatan dengan musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....