Rest Area Alternatif di Luar Tol Diperlukan saat Arus Mudik

  • 31 Mar 2026 06:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Mudik Lebaran 2026 kembali menjadi momen yang menguji kesiapan infrastruktur transportasi Indonesia, terutama layanan rest area di jalan tol. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya peningkatan fasilitas, sejumlah permasalahan klasik tetap muncul, menunjukkan bahwa perbaikan sistem masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pemudik.

Seperti diketahui, sebelum mudik beberapa pengelola jalan tol melakukan persiapan menyeluruh. Contohnya, PT Jasa Marga Kualanamu Tol memastikan rest area Travoy KM 65A–65B siap beroperasi dengan baik, mulai dari toilet fungsional, area parkir teratur, hingga ketersediaan air, listrik, SPBU, dan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik ultra fast charging.

Selain itu, pengamanan di rest area juga diperkuat, seperti di Rest Area 252 yang dilindungi oleh personel gabungan TNI, Polri, dan tenaga kesehatan, menjamin situasi aman dan kondusif.

Secara regulasi, rest area di Indonesia telah dibagi menjadi tiga tipe sesuai Permen PUPR Nomor 28 Tahun 2021, dengan standar luas lahan dan fasilitas yang berbeda-beda, dan tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, serta Kalimantan sebanyak 136 titik.

Namun, pada saat mudik dan arus balik, kapasitas rest area terbukti tidak cukup untuk menampung lonjakan kendaraan. Rest Area KM 62 Tol Jakarta–Cikampek misalnya, terpantau penuh pada H+5 Lebaran, dengan area parkir dan fasilitas umum seperti toilet serta tenant makanan dipadati pengunjung, bahkan perlu dilakukan pengaturan lalu lintas sistem buka tutup. Banyak pemudik juga melaporkan bahwa sejumlah rest area di ruas tol lainnya seperti Pejagan–Cipali juga penuh, bahkan ada yang ditutup sementara.

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan menyatakan, masalah ini bukan hanya teknis, melainkan kegagalan sistem yang berulang. Rest area dirancang untuk penggunaan sehari-hari, bukan untuk lonjakan ekstrem seperti saat mudik, sehingga upaya optimalisasi di dalam rest area saja tidak cukup.

Akibatnya, sebagian pengemudi terpaksa berhenti di bahu jalan tol yang berbahaya atau memaksakan perjalanan tanpa istirahat. Hal ini tentunya akan meningkatkan risiko kecelakaan akibat kelelahan.

Untuk mengatasi masalah ini, Wildan mengusulkan penerapan konsep advisory route, yaitu mengarahkan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol dengan menyediakan titik-titik rest area alternatif yang dilengkapi fasilitas memadai, tanpa tambahan biaya, dan akses keluar-masuk yang lancar. Implementasi konsep ini membutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah, pihak terkait, dan masyarakat untuk memastikan ketersediaan fasilitas serta informasi yang jelas kepada pemudik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....