Karhutla Jadi Cermin Muhasabah dan Kepedulian Terhadap Alam
- 17 Sep 2026 08:34 WIB
- Sanggau
RRI.CO.ID, Sanggau - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan muhasabah diri atas sikap dan perilakunya terhadap alam. Dalam pandangan Islam, manusia memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan karena alam merupakan bagian dari ciptaan Allah SWT yang harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kapuas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Maulidan Albani, mengajak masyarakat menjadikan persoalan karhutla sebagai bahan renungan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam dan sesama. Menurutnya, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi, sehingga setiap tindakan terhadap lingkungan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan tidak menimbulkan kerusakan.
| Baca juga: Hijrah Menuju Pribadi Lebih Baik |
“Karhutla ini bisa menjadi momentum bagi kita untuk bermuhasabah, Kita perlu melihat kembali bagaimana hubungan kita dengan alam, apakah selama ini sudah menjaga dan merawatnya atau justru melakukan tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan dan merugikan banyak orang,” ungkap Maulidan Albani dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Rabu 16 September 2026.
Ia menjelaskan, Islam mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan tidak melakukan kerusakan di muka bum, alam tidak hanya dipandang sebagai tempat manusia menjalani kehidupan, tetapi juga sebagai amanah yang harus dipelihara. Karena itu, menjaga lingkungan dapat menjadi bagian dari ibadah sekaligus amal sosial ketika dilakukan untuk memberikan manfaat dan mencegah kerugian bagi masyarakat.
Maulidan mengatakan, muhasabah diri memiliki keutamaan karena mendorong seseorang mengevaluasi perbuatan yang telah dilakukan, menyadari kesalahan, kemudian berusaha memperbaikinya. Dalam konteks karhutla, masyarakat diajak melihat kembali kebiasaan dan tindakan yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan lingkungan, termasuk perilaku yang hanya mempertimbangkan kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang banyak.
“Kalau kita melihat karhutla, jangan hanya melihat asap dan dampaknya, tetapi mari kita melihat apa yang ada di baliknya, ada sikap manusia yang perlu kita renungkan, ada kebiasaan yang mungkin harus diperbaiki, dan ada tanggung jawab yang harus kita jalankan bersama,” jelas Maulidan.
Maulidan berharap karhutla dapat dijadikan cermin bagi masyarakat untuk melihat apa yang perlu diperbaiki, baik dalam hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, maupun alam. Dengan membiasakan muhasabah, mengendalikan diri, menjaga lingkungan, dan menghindari tindakan yang merugikan masyarakat, kepedulian terhadap alam dapat menjadi bagian dari ibadah serta amal sosial demi terciptanya kehidupan yang lebih harmonis dan penuh keberkahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....