Dukungan BRI Menguatkan Wisata Desa Brilian Lontar Sewu

  • 05 Mei 2026 15:28 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Gresik – Jumat menjelang sore, 17 April 2026, suasana Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti di Gresik terasa hangat. Rombongan RO BRI Surabaya tiba di pintu masuk Lontar Sewu, disambut satpam, penjaga tiket, dan Sekretaris Desa Arifin. Tiket bisa dibayar tunai atau dengan QRIS BRI, menandakan wisata desa ini sudah beradaptasi dengan teknologi keuangan modern. Senyum ramah dan sapaan hangat membuat kedatangan terasa penuh keakraban.

Arifin mengisahkan perjalanan panjang Lontar Sewu. Berawal dari ide mahasiswa UNESA tahun 2018, pohon lontar yang dicat warna-warni menjadi cikal bakal ekowisata desa. Nama “Lontar Sewu” lahir saat desa ikut Bursa Inovasi Desa, lalu berkembang lewat lomba tingkat kabupaten hingga program nasional PIDPEL. Dari sana, bantuan Rp1,3 miliar mengalir, menjadi modal awal membangun wisata berbasis pemberdayaan ekonomi lokal.

Sekretaris Desa Hendrosari, Arifin sedang mencerikan kisah perjalanan panjang Desa Brilian Lontar Sewu kepada rombongan RO BRI Surabaya. Jum’at 17 April 2026. (Foto: RRI/Miftah)

Puncak kejayaan datang pada 2021, ketika PADes hampir menembus Rp1 miliar. UKM yang berjualan di sekitar lokasi mencapai 128. Namun, persaingan dengan wisata baru membuat angka itu merosot, kini tinggal 47 saja.

“Kalau bersaing secara finansial, kami tidak mungkin. Maka kami harus bikin terobosan,” ujar Arifin.

Dukungan BRI melalui program CSR TGSL menjadi angin segar. Dana Rp300 juta dipakai membangun kanopi outbound, spot foto di jembatan, pengecatan, branding gazebo, hingga gapura desa. Semua itu mempercantik wajah Lontar Sewu, sekaligus memberi fasilitas baru bagi pengunjung.

“Itu bukan pinjaman, tapi CSR. Kami masih jadi nasabah BRI, transaksi di merchant pun pakai QRIS,” jelas Arifin.

Kini, Lontar Sewu berinovasi dengan kegiatan outbound dan edukasi pohon lontar. Anak-anak sekolah dari PAUD hingga SMA diajak belajar memanjat pohon lontar, mengenal legeng, hingga bermain di kolam kecil untuk cocok tanam. Paket outbound ditawarkan Rp75.000–Rp120.000, sementara paket edukasi lebih terjangkau, Rp30.000–Rp50.000.

Tim outbound bahkan aktif mendatangi sekolah-sekolah di Lamongan, Tuban, hingga Surabaya. Suasana riang anak-anak yang berlarian di bawah pohon lontar, tertawa saat mencoba permainan, menjadi warna baru bagi wisata desa ini.

Meski omset menurun, semangat warga tetap menyala. Lontar Sewu bukan sekadar wisata, melainkan simbol kebersamaan dan inovasi desa. Dari nol rupiah, kini menjadi destinasi yang dikenal nasional, dengan dukungan BRI yang memperkuat langkahnya.

Senja itu, ketika rombongan BRI berjalan menyusuri jembatan berwarna-warni, Lontar Sewu seakan berbisik, desa kecil pun bisa besar, asal berani berinovasi dan menjaga semangat kebersamaan.

BRI Dukung Desa Brilian, UMKM dan Wisata Lokal Makin Aktif

BRI Unit Domas Manukan terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung Desa Brilian Indrosari. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa layanan perbankan, tetapi juga bantuan fisik dan modal usaha yang langsung dirasakan masyarakat.

Salah satu bentuk nyata dukungan adalah pemberian freezer gratis kepada sekitar 40 pelaku usaha kuliner “legend” agar produk mereka lebih awet dan bisa dipasarkan lebih luas. Selain itu, BRI juga menyalurkan CSR untuk pembangunan BUMDes, sehingga fasilitas usaha di desa semakin berkembang.

Sekretaris Desa Hendrosari, Arifin sedang menunjukkan kanopi outbound yang di bangun dari dukungan BRI melalui program CSR TGSL. Jum’at 17 April 2026. (Foto: RRI/Miftah)

Menurut Abdul Mujib, Kepala Unit BRI Domas Manukan, kehadiran BRI membuat masyarakat lebih akrab dengan layanan perbankan.

“Mulai dari simpanan, pinjaman, hingga transaksi QRIS, semua akhirnya larinya ke BRI. Perputaran uang di desa ini sekarang terpusat di BRI,” ujarnya.

Ia menambahkah, dukungan tersebut juga memperkuat komunitas pedagang di sekitar lokasi wisata desa. Transaksi jual-beli, kebutuhan modal, hingga pembayaran antar dusun kini dilakukan melalui rekening BRI. Hal ini membuat BRI semakin dekat dengan masyarakat dan menjadi pilihan utama dalam layanan keuangan.

“Dengan dukungan berkelanjutan ini, Desa Brilian Indrosari Lontar Sewu semakin aktif. UMKM tumbuh, wisata lokal tetap bergairah, dan masyarakat merasakan kemudahan layanan keuangan yang terintegrasi.

Sore di Lontar Sewu: Abdul Manaf Menjaga Tradisi Penderesan

Senja perlahan turun di kawasan wisata Lontar Sewu, Puluhan pohon lontar menjulang tinggi, berjejer rapi seolah menjadi penanda kehidupan masyarakat sekitar. Di antara deretan batang kokoh itu, Abdul Manaf (58), pemanjat senior, tampak bersiap memanjat pohon lontar jantan yang siap diambil legennya hasil trisan di hari sebelumnya.

Dengan gerakan terlatih, ia meraih batang pohon, menapak perlahan, lalu naik ke atas dengan penuh kehati-hatian. Suasana sore terasa hening, hanya sesekali terdengar suara gesekan alat pada batang lontar dan air sepoi menyapa lembut. Wadah yang dicantelkan di pinggangnya sudah disiapkan untuk menampung tetesan nira segar.

Abdul Manaf (58), pemanjat senior, tampak mempraktikan memanjat pohon lontar jantan yang siap diambil legennya kepada rombonga BRI RO Surabaya. Jum’at, 17 April 2026. (Foto: RRI/Miftah)

“Pokoknya harus dilukai setiap hari. Kalau kelupaan, bisa mati penderesan. Kalau tidak dilakukan, ya mati,” ujarnya sambil mengiris batang bunga lontar dengan pisau kecil.

Dikatakan Abdul Manaf penderesan tidak bisa dilakukan sembarangan. “Tidak boleh kalau hujan. Jangan hujan, pokoknya hujan tidak boleh. Tidak boleh juga saat petir. Kalau hujan deras sekaligus, berbahaya,” tuturnya.

Ia juga menunjukkan cara menjaga kebersihan hasil penderesan. Bagian yang diiris ditutup dengan plastik atau karet agar tidak dimasuki binatang.

“Setiap kali mengiris, pasti ditarik ke depan, lalu diiris lagi, ditarik ke depan, baru turun,” jelasnya sambil memperagakan gerakan tangan.

Durasi penderesan bisa berlangsung beberapa hari hingga seminggu. “Hari-hari proses bisa sampai enam hari. Kadang empat hari diiris, dua hari dibiarkan. Kalau terlalu lama di atas, bisa sampai dua minggu. Tidak boleh begitu,” tambahnya dengan logat jawanya.

Sore itu, aroma manis khas nira mulai menyeruak dari wadah yang dibawa Abdul Manaf tersenyum puas melihat tetesan nira yang perlahan memenuhi wadah.

“Kalau sudah seperti itu, pengirisan bisa sampai sebulan. Tergantung pemilik pohon,” katanya menutup cerita, seolah menegaskan bahwa tradisi penderesan bukan hanya pekerjaan, melainkan warisan budaya yang terus hidup di bawah rindang pohon lontar Lontar Sewu.

Tak jauh dari lokasi penderesan, rombongan RO BRI Surabaya yang berkunjung ke Lontar Sewu tampak antusias menyaksikan langsung cara Abdul Manaf memanjat pohon lontar. Mereka ikut mencicipi segarnya legen hasil terisan dengan manis alami. Senyum dan tawa mengiringi pengalaman itu, sebelum akhirnya rombongan menutup kunjungan dengan naik kereta sawah, wahana khas Lontar Sewu yang membawa mereka berkeliling hamparan hijau persawahan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....