Mengulas Saronen, Alat Musik Tiup Khas Tanah Madura
- 01 Sep 2026 20:06 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Saronen adalah kesenian tradisional Madura yang memiliki akar sejarah panjang dan diyakini sebagai musik serapan atau budaya adopsi dari luar.
- Versi pertama asal-usul Saronen menunjukkan kemiripan dengan instrumen Timur Tengah seperti serunai, zurna, dan shehnai.
- Versi kedua mengaitkan Saronen dengan adopsi budaya antara Madura dan Ponorogo, di mana penguasa Sumenep pernah berkunjung dan mengembangkan instrumen tiup tersebut di wilayahnya.
RRI.CO.ID, Pamekasan - Kesenian tradisional Saronen memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan diyakini sebagai musik serapan atau budaya adopsi luar. Berdasarkan catatan literatur maupun penuturan lisan, asal-usul Saronen terbagi dalam beberapa versi menarik. Versi pertama menunjukkan adanya kemiripan dengan berbagai instrumen di Timur Tengah seperti serunai, zurna hingga shehnai.
Sementara versi kedua mengaitkannya dengan kedekatan budaya antara Madura dan Ponorogo, di mana penguasa Sumenep kala itu pernah berkunjung dan mengadopsi instrumen tiup tersebut untuk dikembangkan di wilayahnya, hal ini dijelaskan oleh Arief Wibisono, Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, pada Selasa, 1 September 2026.
Lebih lanjut ia menjelaskan, perkembangan Saronen di masa lampau tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh agama, salah satunya Kiai Khotib Sendang yang merupakan cicit Sunan Kudus dan bermukim di Desa Sendang, Pragaan, Sumenep. Beliau memanfaatkan alat musik ini sebagai media strategis untuk menarik perhatian massa sebelum menyampaikan dakwah Islam.
“Sebelum memulai syiar agama, Kiai Khotib biasanya menghibur masyarakat yang berkumpul dengan pertunjukan musik Saronen yang dipadukan unsur seni lawak lokal, sehingga suasana dakwah menjadi lebih hangat dan mudah diterima masyarakat luas,” jelasnya.
Dari segi penamaan, istilah "Saronen" lahir dari perpaduan nama alat musik tiup serapan dengan kebiasaan dakwah yang rutin dilakukan pada hari Senin atau disebut Seninan. Di samping itu, filosofi kesenian ini juga tercermin dari formasi ansambelnya yang melibatkan sembilan jenis alat musik berbeda, meliputi Saronen sebagai instrumen utama yang dipadukan dengan gong besar, kempul, kenong besar, kenong tengahan, kenong kecil, korca, gendang besar, hingga gendang kecil, yang secara simbolis merefleksikan nilai-nilai religius dan spiritualitas masyarakat setempat.
Struktur fisik alat musik Saronen pun menyimpan ciri khas dan makna simbolis yang mendalam bagi identitas masyarakat Madura. Terbuat dari bahan kayu jati pilihan untuk bagian badannya dengan ujung atas dilapisi daun siwalan serta gelang kuningan kecil, instrumen ini dilengkapi bagian bibir berbentuk corong menyerupai kumis dari tempurung kelapa.
“Desain visual yang gagah ini merepresentasikan karakter orang Madura yang terbuka, riang, tegas, polos, serta memiliki semangat hidup yang tinggi dan penuh ketegasan setiap kali suara musiknya ditiupkan,” tutupnya, mengakhiri.
Sebagai warisan budaya tak benda yang terus dijaga kelestariannya, Dewan Kesenian Pamekasan menekankan pentingnya peran masyarakat dalam merawat eksistensi Saronen agar tidak lekang oleh zaman. Melalui pelestarian nilai sejarah, fungsi dakwah masa lalu, serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya, Saronen diharapkan tetap menjadi ikon kebanggaan seni musik tradisional Madura yang dikenal luas oleh generasi muda maupun kancah nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....