Mengenal Saronen, Alat Musik Tradisional Khas Madura

  • 28 Agt 2026 09:38 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Pamekasan - Alat musik tradisional khas Madura, Saronen, memiliki sejarah panjang yang sarat akan nilai budaya dan spiritual.

Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, Arief Wibisono, menjelaskan bahwa Saronen merupakan hasil adopsi budaya yang mulanya digunakan oleh Kiai Hatip Sendang, cicit Sunan Kudus sebagai media dakwah di Sumenep.

Nama Saronen sendiri lahir dari perpaduan nama alat tiup khas Timur Tengah dan kebiasaan sang kiai yang berdakwah pada hari Senin.

"Selain versi Timur Tengah, terdapat pula literasi yang menyebutkan keterkaitan Saronen dengan adopsi alat tiup slompret dari Ponorogo yang dibawa oleh penguasa Sumenep," ucapnya kepada RRI, Jumat, 28 Agustus 2026.

Secara filosofis, keberadaan Saronen dipenuhi simbolisme yang mendalam. Satu set pertunjukan Saronen terdiri dari sembilan jenis alat musik, yang melambangkan jumlah huruf dalam kalimat Bismillahirrahmanirrahim.

Dari segi fisik, alat tiup utamanya terbuat dari kayu jati dengan daun siwalan di bagian ujung serta hiasan mirip kumis dari tempurung kelapa di dekat bibir peniupnya.

Desain tersebut memberikan kesan gagah sekaligus mewakili karakter masyarakat Madura yang tegas, terbuka, polos, dan riang gembira.

"Karakter suara saronen yang tinggi, nyaring, serta energik pun menjadi identitas pembeda yang sangat khas," katanya.

Meniup Saronen bukanlah perkara mudah karena membutuhkan teknik pernapasan khusus yang sangat rumit. Peniup Saronen harus menguasai teknik napas berputar (pitch control), yakni menggembungkan pipi untuk menghembuskan udara secara stabil sambil terus menarik napas melalui hidung.

Kontrol bibir dan lidah yang presisi sangat diperlukan agar getaran pada daun siwalan menghasilkan nada panjang tanpa terputus. Keterampilan tingkat tinggi ini menjadikan Saronen sebagai instrumen yang sulit dipelajari dalam waktu singkat, sekaligus menjadi daya tarik utama dalam berbagai ajang tradisi seperti karapan sapi, sapi sonok, hingga pesta rakyat.

Kendati memiliki nilai sejarah yang kuat, pelestarian Saronen di Madura saat ini menghadapi berbagai tantangan serius. Masalah utama terletak pada minimnya regenerasi, di mana mayoritas seniman Saronen yang tersisa sudah berusia lanjut.

Selain itu, teknik permainan yang amat sulit serta persaingan ketat dari genre musik modern membuat minat generasi muda kian menyurut. Di Pamekasan sendiri juga masih belum memiliki perajin Saronen, sejauh ini masih terpusat di wilayah Sumenep.

Menghadapi tantangan tersebut, Dewan Kesenian Pamekasan terus berupaya membuka ruang ekspresi dan menjaga eksistensi Saronen. Arief mendukung adanya inovasi atau akulturasi musik, seperti penggabungan Saronen dengan genre jazz, pop, maupun rock, guna menarik minat Gen Z tanpa menghilangkan karakter khas dan pakem aslinya.

Bagi peneliti atau wisatawan yang ingin mempelajari seni ini, Sanggar Makan Ati di Pamekasan menjadi salah satu rujukan utama karena masih memiliki peniup Saronen dari kalangan muda. Sinergi lintas generasi dan pembenahan ekosistem kebudayaan dinilai menjadi kunci utama keberlanjutan tradisi ini.

Sebagai langkah konkret dalam merawat kearifan lokal, Dewan Kesenian Pamekasan berencana menggelar perhelatan budaya berskala besar selama 10 hari pada Oktober mendatang, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan.

Event yang rencananya dipusatkan di Area Arek Lancor tersebut akan menampilkan pertunjukan musik tradisional Saronen, pameran kuliner Madura, lomba membatik, hingga pengenalan keris. Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat, warisan leluhur ini diharapkan tetap lestari dan tidak kehilangan marwahnya di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....