Disperta Sampang: BEP Jadi Acuan, Petani Harap Harga Layak

  • 20 Jul 2026 14:06 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Dinas Pertanian Kabupaten Sampang menegaskan harga tembakau petani tidak hanya berdasarkan Break Even Point (BEP), melainkan juga mempertimbangkan kondisi pasar.
  • Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Hortikultura Nurdin menjelaskan perusahaan pembeli memiliki berbagai pertimbangan kompleks sebelum menetapkan harga pembelian tembakau dari petani.
  • Kemampuan finansial dan kapasitas perusahaan pembeli menjadi faktor penting dalam menentukan harga tembakau di tingkat petani.

RRI.CO.ID, Sampang - Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Sampang menegaskan harga tembakau di tingkat petani tidak hanya mengacu pada Break Even Point (BEP), tetapi juga dipengaruhi kondisi pasar serta kemampuan perusahaan pembeli.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Hortikultura Disperta Kabupaten Sampang, Nurdin, mengatakan perusahaan memiliki berbagai pertimbangan sebelum menentukan harga pembelian tembakau dari petani.

Menurut dia, ketika produksi tembakau melimpah sementara permintaan pasar menurun, perusahaan belum tentu mampu membeli sesuai angka BEP yang telah dihitung.

"Kalau produksi banyak kemudian permintaannya sedikit, perusahaan bisa saja tidak mampu membeli sesuai angka BEP karena kemampuan modal mereka juga terbatas," ujar Nurdin, Senin 20 Juli 2026.

Meski demikian, ia menegaskan BEP tetap menjadi pedoman bagi petani untuk mengetahui batas minimal harga jual agar usaha tani tidak mengalami kerugian. Dengan memahami BEP, petani dapat menghitung biaya produksi dan mengetahui apakah harga yang diterima sudah memberikan keuntungan.

Di sisi lain, harapan besar datang dari kalangan petani. Zanullah, petani tembakau asal Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, berharap harga tembakau pada musim panen tahun ini lebih tinggi karena biaya produksi yang dikeluarkannya mencapai puluhan juta rupiah.

"Modal yang kami keluarkan sangat besar, mulai dari pengolahan lahan, perawatan hingga panen. Kami berharap harga tembakau tahun ini tinggi sehingga biaya produksi bisa tertutupi dan petani tidak merugi," kata Zanullah.

Ia berharap perusahaan pembeli turut mempertimbangkan besarnya biaya produksi yang ditanggung petani dalam menentukan harga pembelian, sehingga usaha tani tembakau tetap memberikan keuntungan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....