Zero Waste: Sulap Sisa Dapur MBG jadi Berkah
- 11 Jul 2026 16:49 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Program Makan Bergizi Gratis pemerintah berpotensi memicu lonjakan sisa makanan jika tidak diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang tepat.
- Konsep dapur hijau dengan pemilahan sampah dari sumbernya harus diterapkan secara disiplin di setiap titik operasional masak-memasak untuk mencegah limbah organik membusuk di TPA.
- Limbah organik dari dapur memiliki nilai ekonomi tinggi jika diproses melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) atau kompos, sementara limbah anorganik dapat didaur ulang melalui bank sampah.
RRI.CO.ID,Sampang- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah masif digulirkan pemerintah berpotensi memicu lonjakan sisa makanan jika tidak diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang tepat. Merespons tantangan tersebut, RRI Sampang menyelenggarakan dialog interaktif melalui program Green Radio untuk mengedukasi publik mengenai pengelolaan limbah domestik skala besar. Dialog ini mengupas tuntas urgensi pemilahan sampah langsung dari sumbernya demi menjaga higienitas lingkungan sekaligus menciptakan ekosistem sirkular.
Agus Hendra Purnomo, pegiat lingkungan zero waste dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sampang menekankan bahwa konsep dapur hijau harus diterapkan secara disiplin di setiap titik operasional, mulai dari penyiapan bahan baku lokal hingga manajemen sisa konsumsi siswa. Menurutnya, pemilahan sisa sayuran, kulit bawang, hingga sisa lauk pauk secara mandiri oleh pengelola dapur merupakan fondasi penting agar material organik tidak membusuk sia-sia di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas masak-memasak harian ini memiliki nilai ekonomi tinggi jika diproses dengan metode yang tepat. Sisa bahan organik mentah dapat dialihkan menjadi pakan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) atau diolah cepat menggunakan metode kompos. Sementara itu, limbah anorganik seperti kardus wadah bahan baku dan botol plastik dapat langsung disalurkan ke jaringan bank sampah terdekat untuk didaur ulang.
Agus juga mengingatkan pentingnya mengelola limbah cair dapur seperti sisa lemak dan minyak jelantah agar tidak mencemari saluran air pemukiman. Ia mendorong penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana di area dapur serta pengumpulan minyak jelantah untuk dikonversi menjadi produk bermanfaat.
"Langkah ini krusial guna memastikan bahwa pemenuhan gizi anak-anak di daerah tidak mengorbankan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan sekitar" ujarnya.Sabtu,11 Juli 2026.
Melalui momentum dialog Green Radio ini, FPRB Sampang mengajak seluruh elemen masyarakat dan operator wilayah untuk berkolaborasi mewujudkan model zero waste kitchen. Edukasi yang konsisten diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar membuang sampah menjadi mandiri dalam mengolahnya. Dengan sinergi yang kuat, program pemenuhan gizi nasional di Kabupaten Sampang dapat berjalan selaras dengan agenda kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....