Tradisi Asyura di Sampang, Dari Santunan Yatim hingga Sedekah Berkah
- 19 Jun 2026 06:03 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang – Setiap kali bulan Muharram datang, masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sampang, tidak hanya menyambut tahun baru Islam dengan doa dan harapan. Ada tradisi-tradisi lama yang masih hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura, yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai hari penuh keberkahan.
Di sejumlah desa, Hari Asyura selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid menjadi lebih ramai, rumah para dermawan terbuka untuk menerima tamu, dan anak-anak yatim mendapatkan perhatian lebih dari biasanya. Bagi masyarakat Sampang, peringatan Asyura bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, mengatakan ada beberapa tradisi yang sejak lama melekat dalam kehidupan masyarakat Madura saat memasuki 10 Muharram.
"Tradisi pertama adalah menjalankan puasa sunnah Asyura selama satu hari sebagai bentuk ibadah dan ungkapan syukur kepada Allah SWT," jelasnya Kamis 18 Juni 2026.
Selain berpuasa, masyarakat juga menggelar santunan kepada anak yatim. Kegiatan itu biasanya dilaksanakan di masjid, musala, atau rumah para dermawan. Namun tidak sedikit pula warga yang memilih mengantarkan bantuan langsung ke rumah anak yatim sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan kepada mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
“Tradisi santunan anak yatim pada Hari Asyura sudah berlangsung sejak lama. Ini menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial yang terus dijaga oleh masyarakat Madura hingga sekarang,” ujar Bustomi.
Tradisi lainnya adalah pembacaan zikir “Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir” sebanyak 70 kali. Amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk tawakal dan doa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan, kesehatan, umur yang panjang, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan.
"Yang menarik, Hari Asyura juga identik dengan tradisi memperbanyak nafkah untuk keluarga. Pada hari tersebut, sebagian masyarakat sengaja menambah belanja rumah tangga melebihi hari-hari biasa," ungkapnya.
Menurutnya tradisi ini bukan dimaknai sebagai pemborosan, melainkan simbol perhatian kepada keluarga serta harapan agar rezeki yang diberikan Allah terus bertambah dan membawa keberkahan sepanjang tahun.
"Tak lengkap rasanya memperingati Asyura tanpa sedekah. Karena itu, banyak warga memanfaatkan momen ini untuk berbagi kepada tetangga, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan. Sedekah dalam berbagai bentuk menjadi amalan yang diyakini dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendatangkan keberkahan bagi pemberinya,"tuturnya.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengubah pola kehidupan masyarakat, tradisi Asyura di Sampang tetap bertahan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya mengajarkan pentingnya ibadah, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, kebersamaan, dan rasa syukur. Sebuah warisan budaya religius yang terus hidup dan menjadi identitas masyarakat Madura hingga hari ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....