Struktur Komunitas dan Kemeriahan Seni Sandur dalam Prosesi Tradisi To'-Oto'
- 18 Jun 2026 16:53 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Pelaksanaan tradisi To'-oto' di Madura melibatkan struktur kepemimpinan dan elemen masyarakat yang sangat terorganisir. Pada zaman dahulu, tradisi ini dipelopori oleh kepala desa atau yang dikenal dengan sebutan Kelebun, terutama dalam momen pengumpulan pajak di wilayah Pantai Utara (Pantura).
Selain unsur pemerintahan, struktur To'-oto' didukung oleh tiga pilar utama masyarakat, yakni: kelompok ulama/kiai, para Kelebun, serta komunitas informal yang disegani di Madura, yaitu para Belater (atau disebut Bejing di wilayah Madura Timur). Prosesi perhelatan To'-oto' berlangsung secara bertahap dari pagi hingga malam hari.
Kegiatan diawali sejak pagi dengan prosesi doa selamatan dan tolak bala yang dipimpin oleh kiai setempat bersama para tetangga. Menjelang siang, acara dilanjutkan dengan sesi "balasan" sebagai wujud terima kasih tuan rumah dalam bentuk makan gratis.
"Puncak acara dimulai pada siang hari di bawah tenda (terop) khusus, ditandai dengan pemasangan kepala dan paha sapi di tiang utama sebagai bukti sahih bahwa tuan rumah menyembelih sapi untuk para tamu," jelas, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, Budayawan Sampang, Kamis, 18 Juni 2026.
Kemeriahan To'-oto' semakin lengkap dengan kehadiran musik Sandur Madura sebagai pengiring utama prosesi adat. Musik yang memiliki nilai dakwah sejarah (dikenal juga dengan istilah selabeten karena pernah digunakan Sunan Cendana dari Kwanyar untuk berdakwah selawat) ini mengiringi para tamu yang menari secara bergantian. Di tengah alunan Sandur, para tamu akan menari bersama sinden—yang pada era 1980 hingga 1990-an posisinya digantikan oleh penari laki-laki berwajah perempuan yang disebut lengge—sambil menyerahkan uang sumbangan (buwoh) ke dalam kotak yang dijaga petugas pencatat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....