Tajin Sorah, Sepiring Syukur yang Menyatukan Masyarakat Madura

  • 16 Jun 2026 13:23 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang -: Pagi di bulan Muharram selalu menghadirkan suasana berbeda di sejumlah kampung di Madura. Asap tipis mengepul dari dapur-dapur rumah warga. Aroma santan bercampur rempah menyebar ke sudut-sudut perkampungan, sementara para ibu sibuk mengaduk bubur dalam panci besar. Di tengah kesibukan itu, sebuah tradisi lama kembali hidup: Tajin Sorah atau Bubur Suro.

Bagi masyarakat Madura, Tajin Sorah bukan sekadar makanan. Tradisi yang hadir setiap bulan Muharram itu menjadi simbol rasa syukur atas kesempatan menyambut tahun baru Hijriah. Dari generasi ke generasi, kebiasaan memasak dan membagikan bubur terus diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya yang masih bertahan hingga sekarang.

Semangkuk Tajin Sorah biasanya disajikan dengan beragam pelengkap. Ada suwiran ayam, telur, tauge, sayuran, hingga kuah santan gurih yang kaya rempah. Perpaduan berbagai bahan itu menciptakan cita rasa khas yang akrab di lidah masyarakat Madura sekaligus menghadirkan tampilan yang penuh warna.

Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menjelaskan bahwa kata tajin berarti bubur, sedangkan sorah atau suro merujuk pada bulan Muharram. Menurutnya, tradisi tersebut lahir dari nilai-nilai keagamaan dan sosial yang tumbuh kuat dalam kehidupan masyarakat Madura.

"Tajin Sorah bukan hanya hidangan yang disantap bersama, tetapi juga wujud rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan memasuki tahun baru Hijriah," ujarnya, Selasa 16 Juni 2026.

Lebih dari itu, Tajin Sorah juga menjadi sarana berbagi rezeki. Setelah matang, bubur tidak hanya dinikmati oleh keluarga yang membuatnya. Warga biasanya membagikannya kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar. Tradisi sederhana itu telah lama menjadi cara masyarakat mempererat hubungan sosial dan menjaga kebersamaan.

Di banyak daerah, anak-anak sering mendapat tugas mengantarkan Tajin Sorah ke rumah-rumah tetangga. Aktivitas tersebut menciptakan kehangatan yang sulit ditemukan dalam kehidupan modern yang serba cepat. Semangkuk bubur menjadi penghubung yang mendekatkan satu keluarga dengan keluarga lainnya.

"Tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi dan menjaga silaturahmi. Karena itu, Tajin Sorah tetap bertahan meskipun zaman terus berubah," kata Bustomi.

Biasanya, Tajin Sorah dibuat dan dinikmati pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura. Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Madura. Sebab di balik semangkuk bubur yang sederhana, tersimpan pesan tentang syukur, kepedulian, dan persaudaraan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....