BMKG Juanda Prediksi El Nino 2026 Lebih Panjang

  • 08 Apr 2026 12:34 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya memprediksi fenomena El Nino tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya. Meski demikian, intensitasnya masih berada pada level rendah hingga menengah, sehingga tidak masuk kategori ekstrem seperti yang pernah disebut El Nino Godzilla pada 2015.

Ketua team kerja meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya dalam dialog interaktif di program Kentongan RRI Sampang menjelaskan, pergeseran awal musim kemarau menjadi salah satu indikator utama. Biasanya musim kemarau di Jawa Timur dimulai pada Mei, namun tahun ini diperkirakan maju hingga dua dasarian, yakni sekitar 20 hari lebih awal. Artinya, sebagian wilayah akan mulai mengalami kemarau sejak April.

“Indikator lain yang digunakan BMKG untuk mendeteksi potensi El Nino adalah kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) yang saat ini masih netral, serta IOD (Indian Ocean Dipole) yang memengaruhi ketersediaan uap air. Selain itu, faktor angin kering dari Australia juga turut diperhitungkan dalam analisis iklim,” ucapnya. Rabu, 8 April 2026.

Ia menjelaskan, istilah El Nino Godzilla merujuk pada fenomena yang sangat ekstrem, seperti yang terjadi pada 2015. Sementara itu, kondisi tahun 2026 masih tergolong normal, sehingga dampak kekeringan tidak akan separah fenomena ekstrem tersebut.

“Meski begitu, kami tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada. Prediksi iklim terus diperbarui berdasarkan dinamika atmosfer. Jika terjadi penyimpangan signifikan, seperti kekeringan lebih kuat atau menyerupai kondisi 2014–2015, BMKG akan segera mengeluarkan pembaruan resmi,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk saat ini, Jawa Timur masih berada dalam masa pancaroba. Hujan masih turun di beberapa wilayah, termasuk Madura. Namun, tanda-tanda awal kemarau sudah mulai terlihat, seperti berkurangnya intensitas hujan dan jeda waktu lebih panjang antar hujan.

“Untuk daerah pesisir utara Jawa Timur, seperti Sumenep dan Bangkalan, berpotensi lebih cepat memasuki musim kemarau. Beberapa wilayah bahkan diperkirakan mulai mengalami kemarau pada akhir April,” imbuhnya.

Kondisi topografi menurut Andrie uga menjadi faktor penting dalam menentukan dampak kekeringan. Daerah dengan kemampuan menyimpan air lebih baik akan lebih tahan terhadap musim kemarau, sementara wilayah dengan tanah kering akan lebih rentan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai menyiapkan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air. Dengan kesiapan yang baik, dampak kemarau panjang dapat diminimalisasi sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar,” harapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....