Analisis Astronomi pada Fenomena Blood Moon

  • 27 Feb 2026 02:24 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Pamekasan - Gerhana bulan total tanggal 3 Maret 2026 mengundang pertanyaan sejumlah pemerhati bulan karena diberitakan terjadi tanggal 13 (malam ke-14) Ramadan 1447 H. Secara teori astronomi, gerhana bulan terjadi ketika matahari-bumi-bulan berada dalam satu garis lurus, saat fase bulan purnama (full moon), dan bulan memasuki bayangan Bumi (umbra). Karena itu, gerhana bulan hanya mungkin terjadi saat purnama.

“Dalam sistem kalender hijriah, purnama secara teoritis jatuh sekitar tanggal 14–15 bulan Qamariyah. Namun dalam praktiknya, kadang gerhana terjadi pada tanggal 13, kadang 14, bahkan bisa mendekati 15. Mengapa?” kata Achmad Mulyadi selaku Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura, Kamis 26 Februari 2026.

Secara astronomis, jelasnya, dari prinsip dasar astronomi gerhana bulan dapat dijelaskan, pertama, siklus sinodik Bulan tidak tepat berumur 29,5 Hari. Rata-rata siklus sinodik Bulan adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik, tetapi nilai ini adalah nilai rata-rata. Pada kenyataannya bisa lebih pendek (~29,27 hari) dan bisa juga lebih panjang (~29,83 hari). Akibatnya, momen purnama tidak selalu tepat di tengah tanggal 14 kalender hijriah. Kedua, awal Bulan hijriah tidak selalu astronomis murni.

Dalam praktiknya, awal bulan bisa ditetapkan dengan rukyat (observasi), dan hisab kriteria tertentu (misalnya imkanur rukyah) untuk itu, perbedaan beberapa jam dalam penetapan awal bulan akan mempengaruhi posisi tanggal purnama. Jika awal bulan ditetapkan sedikit “lebih awal”, maka purnama bisa jatuh di tanggal 13 malam dan jika sedikit “lebih lambat”, bisa jatuh di tanggal 15 malam.

Ketiga, waktu terjadinya purnama bersifat Global. Fase purnama terjadi dalam satu waktu astronomis universal (UTC). Namun di Indonesia bisa sudah tanggal 14 malam. Di wilayah lain masih tanggal 13 atau sudah masuk tanggal 15. Karena kalender hijriah berbasis terbenamnya matahari (maghrib), maka pergeseran beberapa jam saja bisa mengubah tanggal hijriah.

Disamping itu, orbit bulan berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Akibatnya, kecepatan Bulan berubah-ubah. Kadang bergerak lebih cepat (dekat perigee). Kadang lebih lambat (dekat apogee). Ini menyebabkan waktu tepat purnama juga sedikit bergeser dari rata-rata.

Dengan demikian, gerhana bulan kadang terjadi tanggal 13 dan kadang 14 karena purnama tidak selalu tepat di tengah tanggal (bulan) hijriah, siklus Bulan bervariasi (tidak konstan), awal bulan hijriah bisa berbeda beberapa jam, perbedaan zona waktu memengaruhi tanggal lokal dan Orbit Bulan elips menyebabkan variasi kecepatan.

“Secara prinsip gerhana bulan selalu terjadi saat purnama secara astronomis, tetapi tanggal hijriahnya bergantung pada sistem penanggalan dan lokasi pengamat,” ujarnya.

Bagaimana Fenomena Gerhana Bulan Total 1447 H?

Dilihat dari fase gerhana, kata Mulyadi, gerhana total terjadi setelah magrib di Indonesia (10:58 UTC/17.58 WIB sampai 13:46 UTS/20:46 WIB). Fenomena ini dapat dianalisis dari aspek umur bulan. Bulan baru dimulai saat stelah konjungsi terjadi. Secara astronomis, konjungsi awal bulan ramadan terjadi pada tanggal 18 Pebruari 2026 pukul 00 UTC atau :00 WIB. Maka, saat maksimum gerhana terjadi pada 3 Maret 2026 pukul 12:59 UTC/19:59 WIB. Saat gerhana ini, umur bulan adalah 13.54 hari dan disebut Fenomena Blood Moon.

Dengan demikian, secara astronomis, purnama terjadi pada umur 13,5-14,8 hari. Untuk itu, umur bulan 13,5 hari pada tanggal 3 Maret 2026. Artinya, secara komputasi hisab gerhana bulan terjadi pada malam 13 atau 14 bergantung pada penetapan awal bulannya. Gerhana bulan terjadi pada 13 Ramadan 1447 H (malam 14) jika awal bulan dihitung lebih awal, dan terjadi pada 14 Ramadan 1447 H (malam 14) jika awal bulan ditentukan sedikit mundur/20 Pebruari 2026).

Dianalisis dari aspek jarak bulan dengan bumi saat gerhana, perkiraan jarak geosentris saat maksimum yaitu ± 362.000 – 365.000 km. Jarak ini disebabkan posisi bulan terkategori dekat dengan bumi (perigee ringan) dengan diameter sudut bulan ≈ 33,0 – 33,3 arcminute. Karena cukup dekat, maka durasi totalitas saat gerhana relatif panjang, yakni 1 jam 34 menit.

Bagaimana Wujud Gerhana Bulan Total 4 Kabupaten di Madura?

Pulau Madura (mencakup Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang) berada pada rentang koordinat astronomis yaitu lintang sekitar 6°50′ – 7°15′ LS, dan bujur sekitar 112°40′ – 114°00′ BT dengan zona waktu : WIB (UTC +7) dan ΔT tahun 2026 ≈ 74 detik. Perbedaan koordinat antarkabupaten relatif kecil (

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....