Negeri Antah Berantah dalam Kritik Budayawan Sampang

  • 04 Feb 2026 18:42 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Di sebuah ruang perenungan budaya, kritik tidak selalu disampaikan lewat pidato atau mimbar resmi. Kadang, ia hadir melalui larik-larik puisi yang tajam, tenang, namun menghantam kesadaran.

Itulah yang dilakukan Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, ketika membacakan puisinya sebagai cermin sosial. Ia memilih metafora dan pengandaian tentang negeri antah-berantah untuk menyampaikan kegelisahan.

"Puisi itu menggambarkan sebuah negeri kaya, namun rakyatnya hidup tanpa kedaulatan. Kekayaan alam, menurutnya, tidak otomatis melahirkan keadilan bagi warga yang berada di lapisan terbawah," tururnya Rabu 04 Januari 2026.

Bustomi menyoroti relasi kuasa yang timpang antara pemimpin dan rakyat. Ia menggambarkan bagaimana suara rakyat kerap menjadi komoditas dalam kontestasi politik.

Dalam puisinya, ia juga memotret perubahan wajah para pemimpin. 

"Dari senyum kampanye yang ramah, menjadi sikap keras setelah kekuasaan diraih,"jelasnya.

Ia menilai jarak antara janji dan realitas semakin melebar. Jurang itu, kata dia, terus menelan harapan rakyat yang setia menunggu perubahan.

Puisi tersebut diberi judul “Negeri Kleptokrasi”, dan ditulis sebagai kritik sosial, bukan tuduhan personal. Berikut petikan puisi yang dibacakan Bustomi:

NEGERI KLEPTOKRASI

Inilah negeri kaya

yang melahirkan para budak

di rumahnya sendiri menjadi budak

di negeri orangpun menjadi budak

bahkan beranak kuli dan bercucu jongos

lantaran ia adalah rakyat

yang tak pernah punya daulat

yang setia mewariskan melarat

Hidup masih juga telantar

Menikmati lapar

sambil sesekali meneriakkan sekarat

Dulu ....

di sepanjang jalan protokol

ditatapnya baliho kampanye

yang menabur senyum pada pendar bayangan semu

dan tangan menyembah dukungan

sekarang ..........

menatap dengan sorot mata garang

mendadak bertaring celurit

naik panggung membusungkan dada

sambil menyimpan segumpal dendam

Wakil rakyat yang dipilihnya

tak mampu merekam

tembang lara tanah kelahiran

entah negeri ini milik siapa ?

Kita tak usah tersinggung

Karena ini negeri jauh antah berantah

Memang dahaga kuasa

acap tawarkan seteguk darah

secawan keringat kaum jelata

kemudian ditatapnya di layar televisi

wakil rakyat berpesta bersulang darah

darah rakyat yang menanggung upeti aneka pajak

usai seremonial akad sumpah berpayung kitab suci

Lihatlah..

Negeri penyamun

Pemimpinnya naik ke atas awan

membawa halilintar

Halilintar itu telah menyambar ladang-ladang

yang telah lama kerontang

bersama pupur petaka

yang segera longsor menjadi jurang

jurang antara narasi janji dan kenyataan

Pesisir Jatra Timur, 3 Februari 2026

Bustomi Irwan Kurniadi

Bustomi menegaskan puisinya ditujukan sebagai pengingat kolektif. Ia berharap masyarakat tetap memiliki kesadaran dan keberanian menjaga haknya sebagai warga.

Menurutnya, puisi adalah cara paling jujur untuk berbicara tentang kegelisahan zaman. Sebuah upaya merawat nurani, agar negeri tidak kehilangan arah dan jati diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....