Bubur Suro Madura, Simbol Syukur dan Silaturahmi

  • 04 Jul 2025 10:07 WIB
  •  Sampang

KBRN, Sampang: Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Madura tetap menjaga warisan budaya leluhur. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Ter Ater Tajin Sorah, tradisi menghantarkan bubur Suro sebagai penanda datangnya bulan Muharram atau Tahun Baru Hijriah.

Tradisi ini masih terasa kuat di berbagai wilayah Kabupaten Sampang, khususnya di Desa Prajjan, Kecamatan Camplong. Setiap 1 Muharram, warga secara sukarela memasak bubur Suro dan berkumpul di balai desa untuk berdoa bersama serta berbagi makanan dengan tetangga dan kerabat.

“Tradisi ini sudah turun-temurun. Setiap tahun kami buat bubur Sorah, berkumpul di balai desa, berdoa bersama, lalu saling antar ke tetangga, saudara, dan kerabat,” ujar Abdus Salam, warga setempat, Jumat (4/7/2025).

Bubur Sorah biasanya berupa bubur putih dengan lauk sederhana. Meski tampak sederhana, makna di baliknya sangat dalam: sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar masyarakat diberi kesehatan dan keselamatan di tahun baru.

Tradisi ini juga berlangsung lebih lama di beberapa daerah. “Kalau di desa kami biasanya tanggal 1 Suro, tapi di kecamatan lain sampai 10 Muharram masih saling antar bubur,” tambah Abdus.

Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Sampang, Abd. Basith, menegaskan bahwa Tajin Sorah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang sarat nilai sosial dan spiritual.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk berbagi, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga budaya Madura agar tetap hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.

Basith juga mengajak generasi muda untuk aktif melestarikan tradisi ini agar tidak punah ditelan zaman.

“Budaya seperti ini harus terus kita jaga bersama, karena di situlah letak kekuatan dan identitas masyarakat Madura,” harapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....