Jurnalis Cilik SDN Labuhan I Sampang, Wujudkan Profil Pelajar Pancasila
- 07 Mei 2026 09:05 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang –SDN Labuhan I Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, menjadi pelopor sekolah dasar yang menghadirkan ekstrakurikuler jurnalistik. Program ini dirancang untuk mencetak “Jurnalis Cilik” yang kritis, berani bertanya, dan mampu memilah informasi sesuai nilai Profil Pelajar Pancasila.
Kepala SDN Labuhan I, Moh. Mahfud dalam dialog interaktif dalam program Indonesia Cerdas di RRI Sampang menjelaskan, program ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan siswa menyaring informasi di era digital.
“Anak sekarang kenal HP, ada info di TikTok langsung ditelan dan di-share tanpa dicek. Dikira semua benar, dan ini juga untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila,” ujarnya dalam siaran bersama RRI Sampang, Rabu 6 Mei 2026.
Untuk membekali siswa, sekolah menerapkan metode verifikasi, validasi, dan praktik. Siswa diajarkan mengecek sumber dengan Google Lens, membandingkan minimal tiga media resmi, serta membedakan kutipan asli dan pelintiran.
“Siswa juga praktik langsung berupa membedah berita mirip, wawancara teman dan guru, serta latihan rumus 5W+1H,” ucapnya.
Ia menambahkan, ekstrakurikuler tersebut sudah berjalan hampir dua tahun dengan minat siswa yang tinggi. Tahun pertama, SDN Labuhan I meraih Juara Harapan 1 lomba menulis tingkat Kabupaten Sampang.“Tahun ini target tiga besar,” kata Mahfud, menambahkan.
Sementara itu, Guru pembina, Moh. Hasan, menambahkan fokus utama adalah melatih siswa berpikir kritis agar tidak jadi korban hoaks.
“Kalau anak tidak dibekali ilmu jurnalistik, mereka bisa jadi korban, bukan konsumen yang selektif,” ujarnya.
Hasan mengenalkan etika dan struktur berita sejak dini, serta memberi simulasi dengan tangkapan layar berita medsos untuk diuji kebenarannya menggunakan tolok ukur 5W+1H.
Hasan yang Jurnalis RMOLJatim menambahkan, siswa juga praktik liputan langsung di lingkungan sekolah dan membuat video pendek yang diunggah ke akun TikTok @sdnlabuhan1. Respon siswa dan wali murid sangat positif. Hasan menegaskan, teknologi justru dimanfaatkan untuk menyebarkan karya.
“Tidak harus tunggu media mainstream. Punya TikTok atau Facebook, posting tulisan sendiri,” katanya.
Harapannya, lahir generasi yang tidak mudah percaya berita viral. “Penyebaran masif bukan berarti benar. Sejak SD harus bisa filter, tidak gampang terprovokasi,” kata Hasan, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....