Hobi Beternak Ayam Chabo, ASN Sampang Raup Cuan Jutaan

  • 05 Sep 2026 12:07 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Lukman Yanto, seorang ASN di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setkab Sampang, mengembangkan usaha ternak ayam kate chabo di pekarangan rumahnya di Jalan Delima.
  • Ternak ayam hias ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang dijalankan secara bersamaan dengan tugas utamanya sebagai pegawai negeri sipil.
  • Lukman Yanto dengan teliti mengamati kondisi kesehatan ayam kate chabo kesayangannya, mulai dari bulu, kaki, hingga kondisi keseluruhannya setiap hari.

RRI.CO.ID, Sampang - Suara kokok ayam memecah kesunyian di sebuah rumah di Jalan Delima, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang. Di sudut pekarangan, puluhan ayam kate chabo tampak sibuk mematuk pakan yang baru saja ditebar pemiliknya, Lukman Yanto.

Dengan pakaian santai sepulang bekerja, pria yang sehari-hari bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setkab Sampang itu menyusuri kandang demi kandang. Sesekali ia mengamati bulu, kaki, hingga kondisi ayam hias kesayangannya.

Siapa sangka, hobi yang awalnya hanya menjadi pelepas penat itu kini justru mendatangkan penghasilan tambahan hingga jutaan rupiah.

"Awalnya hanya saya anggap hiburan. Setelah ayam berkembang biak, ternyata banyak yang tertarik membeli. Sekarang menjadi usaha sampingan yang menghasilkan cuan," kata Lukman kepada RRI, Sabtu 05 September 2026.

Perjalanan usahanya dimulai pada awal 2025. Saat itu ia membeli tiga ekor ayam kate chabo seharga sekitar Rp4 juta. Berbekal ketelatenan merawat dan mempelajari karakter ayam hias tersebut, jumlah koleksinya terus bertambah.

Lukman memilih ayam kate chabo karena bentuk tubuhnya yang mungil sehingga tidak membutuhkan lahan luas. Di pekarangan rumah, ia membangun kandang sederhana berukuran sekitar 3 x 3 meter yang dibagi menjadi beberapa sekat untuk memisahkan indukan dan anakan.

"Yang penting kandangnya bersih, pakannya cukup, dan kesehatannya dijaga. Kalau dirawat dengan baik, hasilnya juga bagus," ujarnya.

Berbagai jenis ayam kate chabo memenuhi kandangnya, mulai benjarong, black thai hingga beberapa varietas lain. Namun, menurut Lukman, tidak semua ayam memiliki nilai jual yang sama. Ada kriteria khusus yang menjadi incaran para penghobi.

"Semakin rimbun ekornya, kakinya pendek, dan bentuk tubuhnya proporsional, harganya semakin mahal," jelasnya.

Ayam-ayam itu biasanya dijual saat berusia sekitar dua bulan melalui media sosial. Pembelinya datang dari berbagai daerah. Harga seekor ayam kate chabo berkisar Rp1 juta hingga lebih dari Rp3 juta, bergantung pada kualitas dan jenisnya.

Meski menjanjikan, usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Musim pancaroba menjadi tantangan tersendiri karena ayam lebih mudah terserang penyakit. Bahkan, tidak sedikit yang mati apabila terlambat ditangani.

"Kalau musim berganti memang harus lebih telaten. Risiko ada, tetapi saya tetap menikmati usaha ini karena sudah menjadi hobi sekaligus menambah penghasilan," tuturnya.

Bagi Lukman, beternak ayam kate chabo bukan sekadar mengejar keuntungan. Dari kandang sederhana di halaman rumah, ia membuktikan bahwa hobi yang dijalani dengan kesabaran dan konsistensi bisa berubah menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....