Lilin-Lilin Kecil di Layar: Menjinakkan Perangkat Digital di Sampang
- 05 Okt 2026 21:42 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Cahaya biru dari layar ponsel cerdas menciptakan penghalang komunikasi keluarga yang signifikan di rumah-rumah di Sampang.
- Gerakan literasi digital yang dimulai dari Kabupaten Sampang merupakan respons konkret terhadap ancaman merosotnya budaya membaca di kalangan masyarakat.
- Inisiatif ini menekankan pentingnya keseimbangan antara penggunaan teknologi digital dan interaksi manusia yang bermakna dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
RRI.CO.ID, Sampang - Cahaya biru dari layar ponsel cerdas kini kerap menjadi tembok tak kasat mata di dalam rumah. Di sudut-sudut ruang tamu, anak-anak hingga orang dewasa kerap tenggelam dalam guliran video tanpa henti, hadir secara fisik, namun berkelana jauh di dunia maya.
Di tengah kepungan arus informasi dan ancaman merosotnya budaya membaca, sebuah gerakan remang kecil tengah dinyalakan dari Kabupaten Sampang.
Bagi Febri Hidayati, kecemasan akan turunnya tingkat literasi masyarakat khususnya di Kabupaten Sampang bukan hanya sekadar angka statistik. Berangkat dari kecintaan mendalam pada lembar-lembar buku, relawan yang bergabung dalam Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Kabupaten Sampang ini memilih untuk turun tangan.
"Membaca buku itu aktivitas yang sangat menyenangkan dan fleksibel. Menatap lembaran kisah jauh lebih bermanfaat ketimbang berselancar tanpa arah di media sosial yang rentan hoaks," tutur Febri kepada RRI, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Febri, melatih kecakapan literasi hari ini tak lagi sebatas mengeja huruf, melainkan memahami makna informasi demi meningkatkan kualitas hidup, sesuai standar yang ditetapkan UNESCO.
RELIMA hadir menyusuri sudut-sudut masyarakat, mulai dari perkumpulan warga, kegiatan PKK, hingga lingkungan sekolah untuk menyalakan kembali tradisi berpikir kritis.
Namun, perang melawan keterasingan digital tak cukup hanya dengan menyuruh anak meletakkan gawai. Mengisolasi anak dari teknologi di era modern kerap kali justru memicu konflik baru antara orang tua dan anak.
Celah itulah yang ditangkap oleh Fani Nurhayati, seorang pendidik sekaligus pegiat literasi di MIN Sampang. Ia melihat gawai tidak harus dimusuhi, melainkan diubah fungsinya.
Dari gagasan itu, lahirlah gerakan "Jemari", sebuah akronim sekaligus representasi dari pergerakan jemari di atas layar sentuh.
"Anak-anak tidak bisa tumbuh hebat dengan sendirinya. Ada harga yang harus dibayar orang tua, yaitu waktu," ujar Fani.
Lewat Jemari, teknologi yang dijadikannya sebuah pintu masuk. Tanpa membebani, setiap minggu orang tua dan anak dikirimkan tiga misi sederhana melalui grup WhatsApp yang sudah dibentuk. Misi tersebut dikemas unik dengan gambar lucu dan warna yang cerah, didalamnya terdapat kuis interaktif, komik digital bergambar, hingga aksi nyata di akhir pekan.
“Kami akan informasikan kepada orang tua yang tergabung dalam grup WhatsApp yang sudah kami bentuk jika ada misi-misi baru yang harusnya orang tua kerjakan bersama buah hati. Terkadang kami juga akan hadir dalam Car Free Day (CFD) untuk menjaring para orang tua untuk lebih aktif mendampingi buah hati mereka,” ucap Fani menambahkan.

Orang tua diajak duduk berdampingan, membaca cerita digital bersama, lalu melempar pertanyaan sederhana seperti, "Bagian mana yang paling kamu suka?" atau "Kalau kamu jadi tokoh ini, apa yang bakal kamu lakukan?"
Pertanyaan sederhana itu seketika meruntuhkan sekat tak kasat mata antara orang tua dan anak. Ponsel pintar yang tadinya menyita perhatian anak, berubah menjadi jembatan dialog interaktif antara ibu, ayah, dan buah hati mereka.
Tidak ada biaya, tidak ada kerumitan aplikasi, semuanya dirancang gratis dan dapat diakses cukup dengan sekali sentuhan jemari.
“Seluruh misi akan kami kirim melalui grup WhatsApp dan untuk memperluas jangkauan kami juga memiliki akun sosial media sendiri yakni @jemariliterasidigital,” kata Fani.
Gerakan ini juga menjadi ruang hangat bagi para orang tua untuk saling menguatkan. Didampingi praktisi dengan latar belakang psikologi, para orang tua bisa bebas berkonsultasi mengenai dinamika pengasuhan anak di era digital.
Tantangan terbesar gerakan literasi di daerah sering kali bukan berupa penolakan, melainkan konsistensi dan juga kesadaran diri. Febri menyadari, menggugah kepedulian masyarakat membutuhkan napas panjang dan tingkat kesabaran tinggi.
"Kita sedang berjuang melawan sesuatu yang tak kasat mata, tapi daya rusaknya luar biasa. Menyalahnya Kabupaten Sampang bukan karena satu obor besar di satu titik, melainkan karena nyala lilin-lilin kecil di seluruh lapisan masyarakat," ungkap Febri penuh semangat.
Teknologi bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa mendekatkan yang jauh, namun di sisi lain dapat menjauhkan yang dekat.
Dari rumah dan ruang keluarga, para pegiat literasi ini membuktikan bahwa benteng literasi digital terkuat tidak dibangun dari seluk-beluk canggihnya aplikasi, melainkan dari kehangatan pendampingan dan kesediaan membagi waktu di dalam rumah sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....