TMMD 129 Sampang: Jejak Langkah TNI dan Warga Membangun Negeri dari Desa
- 13 Agt 2026 13:24 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Prajurit dan warga Desa Panyepen, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang bekerja berdampingan hingga malam hari untuk mengerjakan proyek pembangunan infrastruktur.
- Aktivitas pembangunan dilakukan di bawah cahaya lampu sorot dengan menggunakan peralatan seperti mesin molen dan sekop, menunjukkan dedikasi tim untuk menyelesaikan pekerjaan.
- Kolaborasi antara militer dan masyarakat lokal menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam mendukung pembangunan desa di Madura, Jawa Timur.
RRI.CO.ID, Sampang - Malam di Desa Panyepen, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, biasanya datang bersama sunyi. Namun pada Kamis, 6 Agustus 2026, suasana itu berubah.
Di bawah cahaya lampu sorot, suara mesin molen bercampur dengan gemerincing sekop. Adonan semen berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Prajurit berseragam loreng dan warga berkaos oblong bekerja berdampingan, bahkan ketika malam telah turun sepenuhnya.
Keringat membasahi wajah. Debu menempel di pakaian. Tetapi tidak ada tanda-tanda pekerjaan akan dihentikan.
Di tengah suasana itu, Busiri warga setempat berdiri memandangi jalan rabat beton yang perlahan terbentuk di hadapannya. Jalan itu bukan sekadar hamparan beton baru. Bagi warga Panyepen, ia adalah mimpi yang selama bertahun-tahun hanya dibicarakan.

Kini, mimpi itu mulai bisa diinjak dengan kaki sendiri.
“Kami senang bisa ikut membantu bersama bapak-bapak TNI. Jalan ini mimpi semua msayarakat Panyepen,” ujar Busiri.
Kalimat pendek itu barangkali menjadi gambaran paling sederhana tentang makna TMMD ke-129 Kodim 0828/Sampang.
Pelda Budi, yang mengoordinasikan pekerjaan, memahami bahwa jalan tersebut bukan sekadar target pembangunan.
“Bagi kami, menyelesaikan jalan ini tepat waktu adalah bentuk tanggung jawab moral. Kami tidak ingin warga terus terhambat oleh kondisi jalan rusak,” katanya menyampaikan.
Di jalan itu kelak hasil pertanian lebih mudah dibawa keluar, aktivitas warga menjadi lebih lancar, dan anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa harus berhadapan dengan akses yang rusak.
Tetapi malam itu, semua masih berupa pekerjaan yang belum selesai. Dan mereka memilih untuk terus bekerja.
Dari Pendopo Trunojoyo, Langkah Itu Dimulai
Jejak perubahan Desa Panyepen sebenarnya telah dimulai beberapa pekan sebelumnya.
Pada 15 Juli 2026, Pendopo Trunojoyo menjadi titik awal perjalanan TMMD ke-129. Upacara pembukaan berlangsung dengan dihadiri Bupati Sampang Slamet Junaidi, Wakil Bupati Ahmad Mahfudz, Dansatgas TMMD Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar dan jajaran Forkopimda.
Hari itu, sebuah program pembangunan resmi bergerak menuju pelosok desa. Namun TMMD sejak awal tidak dirancang hanya untuk menghadirkan bangunan baru.
Ada santunan bagi anak yatim. Ada perhatian sosial. Ada upaya mendekatkan prajurit dengan masyarakat.
Di balik seremoni pembukaan itu tersimpan satu pesan pembangunan harus menyentuh manusia yang hidup di dalamnya.
Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar menegaskan, TMMD merupakan bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Melalui TMMD, kami ingin menghadirkan pembangunan yang merata sekaligus memperkuat rasa persatuan. Tidak hanya infrastruktur, tetapi juga kepedulian sosial yang langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya kala itu.
Dari pendopo, langkah kemudian bergerak ke Desa Panyepen. Semen, pasir, beton, pipa dan tenaga manusia menjadi bagian dari perjalanan sebulan penuh.

Melawan Panas, Mengejar Air
Akhir Juli membawa tantangan tersendiri. Matahari Jrengik terasa membakar kulit. Debu beterbangan di lokasi pembangunan sumur bor dan tandon air.
Pada 31 Juli 2026, Brigjen TNI Yanto Reinald Nainggolan selaku Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD ke-129 datang meninjau langsung pekerjaan.
Ia menyusuri lokasi, berbincang dengan prajurit, melihat perkembangan pembangunan dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai sasaran.
“TMMD bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat persatuan, kepedulian, dan kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui semangat gotong royong,” tuturnya.
Di lapangan, tantangan bukan hanya panas. Material sempat mengalami keterlambatan. Namun Satgas dan warga tidak menjadikan persoalan itu sebagai alasan untuk berhenti.
Dansatgas Letkol Dika mengakui tantangan tersebut.
“Meski panas menyengat dan material terlambat, semangat personel dan warga tidak pernah luntur,” ucapnya dengan penuh optimis.
Setiap pipa yang tersambung membawa arti yang lebih besar daripada sekadar pekerjaan teknis.
Bagi warga, pipa itu adalah jalan menuju air bersih. Dan air adalah kebutuhan yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan.

Ketika Air Akhirnya Mengalir
Di Dusun Bratan, perubahan itu mulai terasa. Tandon air berkapasitas 750 liter kini melayani sekitar 100 jiwa. Bagi warga yang sebelumnya harus berjuang mendapatkan air, keberadaan fasilitas tersebut menjadi kabar baik.
Kepala Dusun Bratan, Samian, tidak menyembunyikan rasa syukurnya.
“Sekarang air terus mengalir. Warga tidak lagi kesulitan,” Alhamdulilah ucapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di sebuah desa yang pernah bergulat dengan persoalan air bersih, air yang mengalir adalah bentuk perubahan yang paling nyata.
Kemudian, pada 10 Agustus, tandon-tandon mulai berdiri di halaman rumah warga.
Serma Karnoto bersama personel Satgas dan masyarakat mengerjakan pemasangan kolom bambu, bekisting hingga pengecatan dengan teliti.
“Pekerjaan dilakukan secara teliti dan penuh semangat agar pembangunan selesai tepat waktu serta memberi manfaat jangka panjang bagi warga,” ujarnya.

Kapten Inf Sufyan menegaskan tandon tersebut bukan hasil kerja satu pihak.
“Tandon ini lahir dari gotong royong TNI dan warga secara gotong-royong,” imbunya.
Prajurit mengangkat. Warga membantu. Tandon ditempatkan. Semua dilakukan bersama. Tidak ada jarak antara seragam loreng dan pakaian warga.
Bukan Hanya Beton: Membangun Kesadaran
Jika jalan, sumur bor dan tandon menjadi wajah fisik TMMD, maka kegiatan nonfisik adalah bagian yang bekerja lebih dalam.
Ia tidak terlihat seperti beton yang bisa disentuh, tetapi pengaruhnya bisa tinggal lebih lama.
Pada 6 Agustus 2026, sekitar 50 warga berkumpul di Posko TMMD mengikuti penyuluhan P4GN dan Wawasan Kebangsaan.

Kapten Inf Suni bersama Kepala Bakesbangpol Sampang Hj. Chairijah mengajak masyarakat berbicara tentang ancaman narkoba, wawasan kebangsaan, keluarga, serta pentingnya pengawasan terhadap anak.
Pesan Hj. Chairijah terutama menyentuh para ibu. Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama untuk melindungi anak dari pengaruh lingkungan dan dunia digital.
“Benteng utama adalah ada di dalam keluarga sendiri,” ucapnya kala itu.
Diskusi kemudian berkembang pada persoalan perlindungan perempuan dan anak bersama Dinas PPA Jatim serta Polres Sampang.
Warga yang semula lebih banyak diam mulai berani menyampaikan pandangan.
Di sudut lain Posko TMMD, suasana berbeda terasa.
Celoteh anak-anak terdengar ketika Bidan Maratus Solehah dari Puskesmas Jrengik melakukan pemeriksaan gizi dan upaya pencegahan stunting.
Balita ditimbang. Kondisi mereka diperiksa. Orang tua mendapatkan edukasi.
Suasana yang semula mungkin terasa serius berubah menjadi lebih cair ketika prajurit ikut menyapa anak-anak dengan ramah.
“Kesehatan anak adalah investasi masa depan desa,” kata Maratus Solehah.
Kalimat itu menyimpan pesan sederhana, membangun desa hari ini berarti mempersiapkan generasi yang akan mengisinya esok hari.
Edukasi juga menyentuh persoalan pertanahan.
Petugas BPN Kabupaten Sampang memberikan pemahaman mengenai Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dan sertifikat elektronik.
Bagi masyarakat yang sehari-hari berkutat dengan lahan garapan, pengetahuan mengenai legalitas tanah bukan perkara kecil.
Penjabat Kepala Desa Panyepen menyebut edukasi tersebut membantu warga memahami pentingnya kepastian hukum atas tanah mereka.
“Tanah warga harus punya kepastian hukum,” ucapnya dengan singkat.
Dengan cara itu, TMMD tidak hanya meninggalkan fasilitas fisik, tetapi juga pengetahuan yang dapat menjadi bekal masyarakat.
Makan Bersama, Menghapus Jarak
Ada pula momen yang tampak sederhana tetapi justru memperlihatkan kedekatan TNI dan warga.
Pada 25 Juli, di lokasi renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Hasan, prajurit dan masyarakat duduk lesehan untuk makan siang bersama.

Tidak ada panggung. Tidak ada jarak. Hanya nasi, lauk, percakapan dan tawa di sela pekerjaan.
Danramil Jrengik, Kapten Inf Sufyan, melihat momen seperti itu sebagai bagian penting dari TMMD.
“Kami ingin TMMD ini tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, tetapi juga kenangan manis dan hubungan emosional yang kuat antara TNI dan warga,” tuturnya.
Jalan yang Berubah Menjadi Ruang Kemerdekaan
Pembangunan jalan rabat beton yang dikerjakan hingga malam akhirnya mencapai tahap penyelesaian.
Pada 12 Agustus 2026, pekerjaan finishing dilakukan Satgas bersama masyarakat.

Namun jalan itu ternyata segera memiliki fungsi lain. Anak-anak sekolah mulai menggunakannya sebagai lokasi latihan gerak jalan untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Iren, siswa SDN Jrengik, menjadi salah satu yang merasakan manfaatnya.
“Alhamdulillah, jalannya sudah selesai dan bisa kami manfaatkan untuk latihan gerak jalan,” ujarnya.
Ada sesuatu yang menarik dari pemandangan itu. Jalan yang dibangun untuk memperlancar mobilitas warga kini menjadi tempat anak-anak belajar disiplin dan mempersiapkan diri menyambut kemerdekaan.
Pelda Budi pun berharap jalan tersebut terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga jalan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk anak-anak sekolah yang menggunakannya untuk berbagai kegiatan positif,” katanya.
Senyum di Balik Tandon
Ketika tandon mulai berdiri di rumah-rumah warga, rasa syukur pun muncul.
Kotif adalah salah satunya. “Alhamdulillah, sekarang tandon sudah terpasang di rumah kami. Ini sangat membantu warga untuk menampung air bersih,” ucapnya dengan nada sangat bersyukur.
Sementara Abdus berharap para prajurit selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pembangunan.

“Semoga bapak-bapak TNI selalu diberikan kesehatan dan tetap semangat. Kami sangat bersyukur karena pembangunan ini sangat bermanfaat bagi warga,” ujarnya.
Di halaman rumah-rumah warga, tandon putih itu kini berdiri sebagai simbol sederhana bahwa persoalan yang lama dirasakan mulai mendapatkan jalan keluar.
Sebulan yang Menyisakan Jejak
Sebulan adalah waktu yang singkat. Namun di Desa Panyepen, satu bulan cukup untuk memperlihatkan bagaimana sebuah desa dapat berubah ketika TNI dan rakyat memilih berjalan dalam langkah yang sama.
Ada jalan beton. Ada sumur bor.Ada tandon air. Ada pembangunan dan rehabilitasi rumah warga. Ada fasilitas kesehatan yang dibenahi.
Tetapi ada pula penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, edukasi pertanahan, wawasan kebangsaan, perlindungan perempuan dan anak. Dan yang paling penting, ada gotong royong.
Di Desa Panyepen Sampang, TNI bersama rakyat telah menunjukkan bahwa ketika langkah disatukan, sebuah desa dapat bergerak menuju masa depan dengan lebih maju dan berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....