Kisah Pemulung Botol Bekas Tinggalkan Gubuk Bambu Berkat Karya Bakti TNI
- 12 Agt 2026 16:25 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Rohman (46) sedang menyelesaikan pembangunan rumahnya di Kampung Ujung Piring Barat, Desa Ujung Piring, Kecamatan Kota Bangkalan pada Selasa 11 Agustus 2026.
- Prajurit TNI terlibat aktif membantu proses pembangunan rumah Rohman dengan penuh dedikasi.
- Istri Rohman, Rohimah (39), menunjukkan apresiasi dengan menyiapkan kopi dan buah-buahan untuk para prajurit TNI yang membantu pembangunan rumah.
RRI.CO.ID, Bangkalan – Terik matahari terasa menyengat di Kampung Ujung Piring Barat, Desa Ujung Piring, Kecamatan Kota Bangkalan, Selasa 11 Agustus 2026. Debu beterbangan di sekitar sebuah rumah yang sedang dikerjakan. Di tengah suasana itu, Rohman (46) juga tengah sebuk mengayak kapur putih yang akan dicampur bahan lainnya untuk memperhalus tembok rumahnya.
“Ini lagi bantu-bantu mengayak kapur, karena sebantar lagi rumah selesai,” kata Rohman sambil tersenyum yang juga mempersilahkan untuk mencicipi kopi dan buah yang sudah di siapkan istri tercintanya Rohimah (39) untuk para prajurit TNI yang sedang bekerja.
Sesekali wajah Rohman tampak sumringah. Rumah berukuran 6 x 6 meter itu sudah sekitar 90 persen selesai. Tiga kamar dan ruang tamu mulai terbentuk. Tinggal beberapa pekerjaan finishing sebelum rumah ini ditempati Rohman bersama istrinya, Rohimah, dan dua anak mereka.

“Alhamdulilah, sebentar lagi saya sudah punya rumah bertembok, anak dan istri sangat senang, terimakasih TNI AD,” ucap Rohman pria kelahiran tahun 1980 itu dengan senyumannya yang khas.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Rohman, ada perjalanan panjang di baliknya. Selama bertahun-tahun, ia bersama keluarga tinggal di sebuah gubuk bambu yang sudah tua dan kondisinya tidak lagi layak. Untuk menghidupi keluarganya, Rohman bersama Istrinya sehari-hari bekerja sebagai pemulung botol bekas.
Kini, rumah yang selama ini hanya menjadi harapan perlahan berdiri di depan matanya. Dinding bata menggantikan bilik bambu. Kamar-kamar baru sebentar lagi bisa digunakan anak-anaknya. Atap dan plafon pun sedang diselesaikan agar keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
Di tengah kesibukan para prajurit, Rohimah tetap berusaha menyambut mereka. Ia menyiapkan kopi dan makanan ringan. Rohimah memasak di dapur terbuka menggunakan tungku kayu, ditemani anak perempuannya yang sudah remaja dan putranya yang baru pulang dari sekolah dasar.
Rumah itu mendadak menjadi tempat bertemunya banyak tangan. Prajurit mengaduk semen dan pasir, memplester dinding, menghaluskan tembok, hingga memasang plafon. Warga turut membantu. Rohman pun ikut mengambil bagian sesuai kemampuannya.

“Ini saya bantu-bantu pak TNI yang lagi bekerja, tak sabar lagi untuk menampati rumah baru,” ujar Rohman dengan suaranya yang serak itu.
Keringat bercucuran di bawah matahari yang panas. Pakaian para prajurit mulai kotor oleh semen dan debu. Namun, tidak banyak keluhan terdengar. Mereka terus bekerja agar rumah tersebut segera selesai.
Bagi Rohman, perhatian itu terasa begitu besar. Ia bahkan masih sulit percaya bahwa rumah gubuk yang selama ini ditempatinya akan segera ditinggalkan.
“Terima kasih, Pak TNI. Rasanya seperti mimpi,” celetuk Rohman dengan suara haru.
Rumah Rohman merupakan bagian dari Karya Bakti Skala Besar TNI AD 2026 di Pulau Madura. Program tersebut menyasar berbagai kebutuhan masyarakat di empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Program itu secara resmi dimulai di Alun-alun Kabupaten Bangkalan pada Senin 6 Juli 2026. Saat itu, suasana berlangsung meriah. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin bahkan menaiki kereta ul-daul yang diarak di tengah masyarakat.
Namun, setelah irama musik dan kemeriahan pembukaan berlalu, para prajurit bergerak menuju pelosok desa. Sekitar 500 peserta dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, mahasiswa, santri, hingga organisasi kemasyarakatan dilibatkan dalam program tersebut.
Sasarannya bukan hanya pembangunan fisik seperti rumah tidak layak huni, jembatan, sumur bor, rumah ibadah, sekolah, dan panti asuhan. Berbagai kegiatan sosial juga digelar, mulai dari bakti kesehatan, donor darah, operasi katarak, khitan massal, penanaman pohon, hingga pemberian alat bantu bagi penyandang disabilitas.
Di Desa Ujung Piring, semua itu akhirnya menemukan wajahnya pada sosok Rohman. Seorang pemulung botol bekas yang selama bertahun-tahun bertahan di sebuah gubuk bambu, kini sedang menunggu rumah barunya selesai.

Babinsa Desa Ujung Piring, Nawari, mengatakan pengerjaan rumah dilakukan dengan teliti agar hasilnya tidak hanya cepat selesai, tetapi juga nyaman dan bisa digunakan dalam jangka panjang.
“Kami kerjakan bergotong royong dengan sebaik mungkin,” ujarnya.
Menurut Nawari, rumah tersebut diharapkan benar-benar menjadi tempat tinggal yang layak bagi Rohman dan keluarganya. Bukan hanya bangunan yang berdiri kokoh, tetapi juga ruang yang bisa memberikan rasa aman bagi keluarganya.
Komandan Kodim Bangkalan Letkol Inf. Dwi Heru mengatakan Karya Bakti Skala Besar TNI AD tidak semata-mata berbicara tentang pembangunan fisik. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan TNI dengan masyarakat.

“Karya Bhakti Skala Besar ini menjadi momentum memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ungkapnya.
Apa yang terjadi di rumah Rohman menjadi gambaran kecil dari semangat tersebut. Prajurit membawa tenaga, warga ikut bergotong royong, sementara Rohman dan keluarganya menyambut dengan kesederhanaan yang mereka punya.
Tidak ada kemewahan. Hanya kopi, makanan sederhana, tungku kayu, semen, pasir, dan tangan-tangan yang bekerja bersama.
Namun dari kesederhanaan itulah perubahan besar bagi keluarga Rohman sedang berlangsung.

Gubuk bambu yang selama ini menjadi tempat berteduh sebentar lagi menjadi bagian dari masa lalu. Rumah baru yang lebih kokoh akan menjadi tempat Rohman dan Rohimah membesarkan anak-anaknya.
Di bawah panas matahari Ujung Piring, rumah itu mungkin masih menyisakan beberapa pekerjaan. Tetapi harapan keluarga Rohman sudah jauh lebih dulu selesai dibangun.
Karena bagi seorang pemulung botol bekas seperti Rohman, rumah layak bukan sekadar soal dinding, kamar, atau atap. Itu adalah tentang memiliki tempat yang aman untuk pulang dan melihat anak-anaknya tumbuh dengan kehidupan yang sedikit lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....