Jamasan Keris, Merawat Warisan Leluhur di Bulan Muharram
- 26 Jun 2026 19:20 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang – Di balik kilau pamor yang menghiasi sebilah keris, tersimpan jejak sejarah panjang yang terus dirawat lintas generasi. Setiap memasuki bulan Muharram atau bulan Sora, masyarakat Madura kembali menghidupkan tradisi jamasan keris, sebuah ritual membersihkan pusaka yang sarat makna budaya dan penghormatan kepada leluhur.
Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan masih dipertahankan hingga kini. Prosesi biasanya dimulai pada malam 1 Suro dan mencapai puncaknya pada 10 Muharram. Bagi para pecinta keris, jamasan bukan sekadar kegiatan membersihkan benda pusaka, melainkan bentuk pelestarian nilai-nilai sejarah yang diwariskan nenek moyang.
Suasana jamasan berlangsung dengan penuh kehati-hatian. Bilah keris dibersihkan menggunakan bahan-bahan alami, salah satunya jeruk nipis yang oleh masyarakat Madura dikenal sebagai "jeruk keris". Perlahan, karat dan kotoran yang menempel diangkat hingga pamor pada bilah keris kembali memancarkan keindahannya.
Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, mengatakan setiap keris memiliki karakter yang berbeda sehingga cara perawatannya pun tidak bisa disamakan.
"Jamasan bukan hanya membersihkan keris, tetapi juga merawat warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Setiap bilah keris mempunyai karakter dan perlakuan yang berbeda agar keasliannya tetap terjaga," ujar Bustomi, Jumat 26 Juni 2026.
Menurutnya, pada masa lalu masyarakat menyiapkan berbagai perlengkapan khusus dalam prosesi jamasan. Bahkan, bambu beruas digunakan sebagai tempat menyimpan bahan-bahan yang dipakai untuk membersihkan pusaka. Seluruh tahapan dilakukan dengan penuh ketelitian sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan leluhur.
"Dulu semua perlengkapannya dipersiapkan secara khusus. Itu menunjukkan bahwa masyarakat sangat menghargai keris, bukan sekadar sebagai benda pusaka, tetapi sebagai bagian dari identitas dan perjalanan sejarah," katanya.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi jamasan masih terus bertahan. Berbagai komunitas pecinta keris dan masyarakat tetap melaksanakan ritual tersebut setiap bulan Muharram sebagai upaya menjaga nilai budaya agar tidak hilang oleh perubahan zaman.
Bagi masyarakat Madura, keris bukan hanya simbol keberanian atau karya seni tempa logam. Di dalamnya tersimpan kisah peradaban, filosofi kehidupan, serta jati diri yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
"Puncak jamasan pada 10 Muharram menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya merawat sejarah. Kalau bukan kita yang menjaga warisan budaya ini, siapa lagi. Tradisi ini harus tetap hidup agar generasi muda mengenal identitas budayanya sendiri," tutur Bustomi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi jamasan keris menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban tidak hanya dikenang melalui bangunan atau catatan sejarah, tetapi juga melalui tradisi yang terus dirawat.
"Selama pamor keris masih dibersihkan setiap Muharram, selama itu pula warisan budaya Madura akan tetap hidup di hati masyarakatnya," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....