Dari Kudus ke Arosbaya: Awal Mula Islam Menjadi Agama Keraton Madura Barat

  • 16 Jun 2026 19:57 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan keagamaan di Pulau Madura, wilayah Sampang telah memiliki jejak pemerintahan yang panjang. Sejarah lokal mencatat bahwa kawasan ini sudah berkembang sejak masa Raden Arya Lembu Peteng, seorang tokoh yang memimpin wilayah pesisir antara Pulau Mandangin hingga Madegan pada masa akhir kejayaan Majapahit.

Budayawan Madura, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menjelaskan bahwa pada masa itu Sampang masih berupa wilayah kecil yang dipimpin seorang Kamituwo, yakni perwakilan kerajaan yang bertugas mengatur pemerintahan lokal. Meski sederhana, keberadaan pemerintahan tersebut menunjukkan bahwa Sampang telah memiliki struktur sosial dan politik jauh sebelum lahirnya kabupaten-kabupaten modern.

"Secara pemerintahan, usia Sampang sebenarnya lebih tua. Hanya saja saat itu wilayahnya masih terbatas dan menjadi bagian dari kekuasaan yang lebih besar," ujar Bustomi, Selasa 16 Juni 2026.

Di tengah perubahan besar yang terjadi di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16, pengaruh Islam mulai menyentuh Sampang. Namun, agama tersebut belum berkembang sebagai kekuatan sosial yang terorganisasi. Islam hadir melalui hubungan antartokoh, perjalanan ilmu, dan interaksi dengan para ulama di pesisir utara Jawa.

"Dalam sejumlah riwayat, Arya Lembu Peteng disebut memiliki hubungan dengan pusat dakwah Islam yang dipimpin Sunan Ampel. Dari pertemuan dan proses pembelajaran itulah benih-benih Islam mulai dikenal di lingkungan masyarakat Sampang, meskipun masih terbatas pada kalangan tertentu," terangnya.

Setelah Arya Lembu Peteng wafat, kepemimpinan wilayah Sampang dilanjutkan oleh keturunannya, mulai dari Arya Mangir hingga Arya Pratikel. Garis keturunan ini kemudian terhubung dengan pusat pemerintahan Madura Barat di Arosbaya melalui Nyai Ageng Budho dan keluarga Ki Demung Pelakaran.

"Perjalanan sejarah itu mencapai titik penting ketika Empu Bageno membawa Islam dari Kudus pada tahun 1527. Kehadirannya membuka jalan bagi penyebaran Islam yang lebih luas di Madura Barat, termasuk wilayah Sampang yang saat itu masih berada dalam satu lingkup pemerintahan dengan Bangkalan,"ungkapnya.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1531 Masehi, Islam resmi menjadi agama yang dianut lingkungan Keraton Plakaran Arosbaya di bawah kepemimpinan Raden Pratanu.

"Sejak saat itu, wilayah Sampang turut merasakan pengaruh besar perubahan tersebut karena menjadi bagian dari kawasan yang dipimpin Panembahan Lemah Duwur," jelasnya.

Menurut Bustomi, peristiwa itu bukan sekadar pergantian keyakinan, melainkan awal lahirnya peradaban baru yang membentuk identitas masyarakat Madura hingga sekarang. Dari pusat pemerintahan hingga kehidupan rakyat, nilai-nilai Islam mulai mewarnai tradisi, pendidikan, hukum, dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

"Hari ini Sampang dikenal sebagai daerah yang kuat dengan tradisi keislamannya. Semua itu tidak lahir dalam semalam, melainkan hasil perjalanan sejarah panjang yang dimulai dari tokoh-tokoh lokal, jaringan ulama, dan proses dakwah yang berlangsung damai selama berabad-abad," kata Bustomi.

Ditambahkannya jejak masa lalu itu masih tersimpan dalam cerita rakyat, situs sejarah, serta tradisi keagamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

"Dari pesisir Mandangin hingga pusat kota Sampang, sejarah Islam tidak hanya menjadi catatan masa lampau, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang tetap hidup hingga hari ini," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....