Puisi Budayawan Sampang Angkat Heroisme Adipati Mertosari
- 21 Jan 2026 20:49 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang – Di tengah riuh agenda kebudayaan, seminar, dialog, hingga resepsi keagamaan, budayawan Sampang R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo menulis puisi berjudul Pahlawanku Adipati Mertosari. Karya itu menjadi seruan sunyi untuk tokoh yang nyaris hilang dari ingatan kolektif masyarakat Sampang. Rabu, 21 Januari 2026.
“Siapa sih di Sampang yang kenal Adipati Mertosari?” ujar Bustomi, mempertanyakan memori sejarah daerahnya. Baginya, pertanyaan itu bukan sekadar retoris, melainkan protes personal terhadap keterputusan generasi hari ini dengan tokoh masa lalu yang gugur mempertahankan martabat Madura.
Adipati Mertosari adalah penguasa Sampang pada 1623–1624, masa singkat yang berakhir tragis. Saat itu, Madura menghadapi invasi besar Kerajaan Mataram Islam di bawah Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Serangan pertama pada 1623 gagal total, dengan ribuan pasukan Mataram tewas. Namun pada 1624, strategi perang diubah, dan invasi dilakukan serentak ke seluruh Madura.
Di Sampang, hanya dua hingga tiga ribu pasukan menghadapi puluhan ribu tentara Mataram. Dalam situasi itulah Adipati Mertosari memilih jalan puputan: tidak mundur, tidak menyerah, dan tidak berlutut.
“Tetap tampil perkasa menghadapi puluhan ribu tentara,” tutur Bustomi, menyamakan keberanian itu dengan semangat Perang Badar.
Perang habis-habisan terjadi di seluruh Madura. Hampir seluruh pimpinan dan pasukan gugur, termasuk Adipati Mertosari. Yang tersisa hanya Raden Praseno, kemenakan Mertosari, yang kemudian ditawan dan dikenal sebagai Cakraningrat I.
Empat abad berlalu, namun pengorbanan Adipati Mertosari belum mendapat tempat layak. Makamnya di Dusun Tokabuh, Desa Karang Dalem, hanya berdiri sederhana bersama ribuan warga Sampang lain yang gugur.
“Meski tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Adipati Mertosari adalah pahlawan yang hebat,” tegas Bustomi.
Puisi Pahlawanku Adipati Mertosari menjadi medium perlawanan kultural. Lewat bait-baitnya, Bustomi menempatkan Mertosari bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi simbol etika, keberanian, dan harga diri. Ia berharap pemerintah dan masyarakat memberi perhatian, bukan sekadar merapikan makam, tetapi merawat ingatan.
“Melupakan pahlawan sama dengan kehilangan jati diri,” tambahnya dengan meng akhiri.