Puisi Margasatwa Catat Resah Bangsa

  • 08 Jan 2026 13:23 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang: Puisi Salam untuk Negeri Margasatwa karya R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi menjadi medium pencatatan kegelisahan sosial yang dirasakan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bustomi menggambarkan negeri sebagai belantara margasatwa yang kehilangan makna tanah air. Tanah diibaratkan tersisa sebagai debu tambang, sementara air digambarkan telah menjadi comberang.

“Lantaran tanah yang tersisa adalah debu tambang, lantaran air sudah jadi comberang,” tulis Bustomi dalam puisinya, Kamis (08/01/2026).

Ia menyebut raibnya hutan sebagai akibat kerakusan, yang diletakkan sebagai latar kerusakan ekologis dan kemanusiaan.

Puisi kemudian bergerak pada gambaran kekuatan yang kehilangan fungsi. Taring, tanduk, kuku, sayap, dan bisa disebut ada, namun tak lagi bekerja.

Bustomi menuliskan kondisi tersebut sebagai ironi, ketika potensi ada tetapi daya hilang, suara ada tetapi tidak lagi mengaum. Dalam bait lain, ia menyebutkan suasana ketika suara lama dibungkam dan perjuangan dipersepsikan sebagai pemberontakan.

“Ketika langit kian keruh dan coklat kusam, ketika hati kian membatu,” tulisnya, namun ia menegaskan nurani masih mengalirkan darah.

Puisi ini juga memuat gambaran manusia yang menjadi penonton sekaligus budak belian, berdiri di gurun kerontang di bawah prasasti dengan wajah letih menengadah.

Melalui rangkaian bait tersebut, Bustomi menyampaikan catatan resah bangsa yang terus berputar dalam pertanyaan dan perdebatan yang saling menunjuk.

Isi puisi Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi

SALAM UNTUK NEGERI MARGASATWA

Kawan.....

jika negeri ini adalah belantara margasatwa

yang dikatakan punya tanah air

Tapi tak punya tanah 

dan juga tak lunya air

lantaran tanah yang tersisa adalah debu tambang

lantaran air sudah jadi comberang

pada raibnya hutan di ketiak kerakusan

Kawan,.

Lalu apa artinya

punya taring tapi tak bisa menggigit

punya tanduk tapi tak bisa menyeruduk

punya kuku tapi tak bisa mencengkeram

punya sayap tapi tak bisa terbang

punya bisa tapi tak bisa menyengat

punya suara tapi tak bisa mengaum

barangkali inilah negeri banci tanpa panji-panji

Kawan..

Ketika suara lama dibungkam

ketika perjuangan dianggapnya pemberontakan

ketika tiang bambu runcing tanpa sangsaka

ketika setiap langkah

harus ditelan gempita derap langkah yang begitu asing

Ketika langit kian keruh dan coklat kusam

ketika hati kian membatu 

tapi nurani masih juga mengalir darah

dalam erang tangis panjang tanpa suara

Belum sadar jugakah kawan ?

jika diri jadi penonton sekaligus budak belian

di bawah jajaran prasasti pada gurun kerontang

sambil tengadah wajah yang letih

inilah resah gelisah

dan desah nafas pada dada yang lama tertikam

Barangkali tinggal menunggu suara langit 

berharap sepatah jawaban

agar bisa mengganti konsideran hukum rimba

hukum yang kehilangan kebenaran

Kawan ........

Selamat bernaung pada payung kuasa

pada negeri tanpa daulat etika

Pada belantara yang sedang mengimpor gelar wibawa

di tengah kepungan lahar malapetaka

Kawan........

kepada siapa saja kami harus bertanya ?

pastilah gampang ditebak

lantaran jawabannya pasti kalimat tanya juga

pada lingkaran kurva yang tak berujung

pada labirin perdebatan

yang saling tuding 

antar sesama telunjuk yang sama-sama terluka.

Rekomendasi Berita