Menghijaukan Pesisir Lembung Pamekasan
- 15 Des 2025 15:20 WIB
- Sampang
KBRN, Pamekasan: Setiap tahun selalu terjadi abrasi. Air laut masuk ke permukiman warga dan menjebolkan tambak garam. Itulah kondisi di pesisir Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, beberapa tahun silam.
Hal itu terjadi karena sebagian besar tutupan bakau atau mangrove hilang akibat ditebang masyarakat setempat untuk dijadikan kayu bakar. Namun, kini tutupan bakau di wilayah tersebut kembali lebat berkat inisiatif Slaman sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Dari dasar itulah, saya termotivasi bersama almarhum bapak saya mencoba satu per satu dimulai tahun 1985. Jadi setiap pulang sekolah pada waktu itu, saya bersama almarhum bapak menanam bibit mangrove ketika air laut surut," ucapnya, Senin (1/12/2025).
Usaha Slaman menyelamatkan hutan bakau sempat mendapat anggapan negatif dari masyarakat sekitar."Saya dianggap dibayar oleh dinas. Terkadang dianggap spionase pemerintah. Sebab mereka yang ingin merusak tidak bebas setelah ada saya," katanya.
Bahkan, kala itu, Slaman sering kali mendapat perilaku buruk dari orang lain."Ban sepeda saya dikempesin. Peralatan saya seperti linggis dibuang. Juga pernah tali dan gedek pos kerja saya dibakar," tuturnya.
Namun, Slaman tidak pernah mencoba melawan. Dia selalu berupaya untuk membangun kebersamaan dengan masyarakat setempat."Saya terus melakukan kegiatan itu seperti biasanya itu bersama bapak saya sambil lalu saya memberikan pemahaman melalui kelompok-kelompok organisasi," ujarnya.
Lalu, di tahun 2010 lalu, Slaman mulai membentuk kelompok tani hutan bernama sabuk hijau beranggotakan ibu-ibu sebanyak 15 orang untuk ikut melestarikan hutan bakau."Karena pada waktu itu perusakan didalangi ibu-ibu, maka saya mengumpulkan ibu-ibu itu yang sekarang sudah berumur 60 tahun, ada yang berumur 70 tahun," tuturnya.
Tidak terasa sudah 39 tahun sejak 1985, Slaman mendedikasikan dirinya menanam bibit bakau di pesisir Desa Lembung. "Dulu luas tutupan mangrove di sini hanya 17 hektare, tetapi sekarang sudah kurang lebih 30 hektare yang menjadi tutupan," jelasnya.

Apa yang dilakukan Slaman, hasilnya kini mulai terlihat dan dirasakan warga setempat seperti Sunsiyah."Setelah mangrove bagus seperti ini, petani tambak pesisir seperti budidaya bandeng, dan udang, tidak lagi mengeluarkan biaya banyak untuk memperbaiki tanggul. Karena dulu, sebelum mangrove bagus, tambak sering jebol," ucapnya.
Meski kerap ditinggal untuk melanjutkan aksi lingkungan, Nurul Imanah sang istri tetap mendukung dengan apa yang dilakukan Slaman. "Saya tidak pernah meminta dia untuk berhenti melakukan aksinya. Saya mengizinkan kalau mau menanam bibit bakau," ungkapnya.
Menurut Slaman, ada tiga dampak dari pelestarian hutan bakau. "Dampak ekologi, munculnya beragam satwa, ada burung, ada monyet. Juga ada dampak sosial, dulu merusak, sekarang mereka jadi pegiat lingkungan, ikut menanam. Kemudian, dampak ekonomi, tidak sedikit dari hasil turunan mangrove ini, saya buat produk-produk, ada kopi mangrove, teh mangrove, sirop mangrove dan madu mangrove," ujarnya.
Slaman mengingatkan, menanam dan merawat hutan bakau juga sama halnya menabung oksigen. "Kita tahu penyumbang oksigen terbesar empat kali lipat tanaman darat adalah mangrove. Tempat untuk menyerap emisi karbon yang terkuat adalah mangrove," katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....