Pertamina Bangkitkan Asa di Taman Wisata Laut Labuhan
- 06 Okt 2024 15:35 WIB
- Sampang
KBRN, Bangkalan: Semilir hembusan angin laut menyambut dengan lembut, terik sinar mentari siang menjelang sore menyapa lirih terbalut rindang dahan-dahan pohon, lambaian dedaunan memanggil penuh rasa kerinduan, hamparan pasir putih menyapa langkah kaki yang baru memarkirkan si kuda besi putih dengan penuh rasa keikhlasan, celoteh nyanyian burung-burung berirama riang membangkitkan asa di Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan, Dusun Masaran, Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh, Kabupaten Bangkalan.
Sambutan ramah dari sejumlah pedagang Usaha Kecil Menengah (UKM) menambahkan suasana penuh keakraban, mereka langsung mempersilahkan duduk di tempat duduk depan warungnya, "Silahkan duduk pak, mau pesan minum apa? atau makanan," tanya salah seorang penjaga warung yang belum saya tahu namanya itu. Dengan spontan saya bersama dua teman memesan kopi hitam dan kacang sangrai yang ia jualnya sambari menunggu kedatangan Mohammad Syahril pengelola Taman Wisata Laut Labuhan, yang sudah berjanjian sebelumnya.
Secangkir kopi hitam yang sudah dipesan rasa panasnya sudah mulai berkurang, seorang pria berkacamata dengan perawakan kurus sedang datang menghampiri kita bertiga dengan diawali sapa senyum, dilanjutkan berjabat tangan secara bergantian, pria itu adalah sang pengelola Taman Wisata Laut Labuhan.
Tidak lama kemudian perbincangan dengan pria yang juga mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Negeri Jiran Malaysia itu dimulai seraya mengajak berjalan kaki mengelilingi Taman Wisata Laut Labuhan, celoteh burung-burung di ranting pohon mangrove mengiringi langkah kaki untuk mengenal lebih dekat Taman Wisata Laut binaan PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Jenggala mangrove menghijau dan rimbun, celoteh berbagai macam jenis burung semakin terdengar jelas ditelinga, deburan ombak dari hamparan laut lepas terlihat seakan menghampiri perjalanan kita diatas jembatan kayu yang mengelilingi hutan mangrove dengan dilengkapi gazebo apung untuk tempat peristirahatan juga disiapkan untuk tempat spot foto bagi pengunjung.
"Berkat kehadiran dan sentuhan PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) ke Desa Labuhan, saat ini lingkungan pesisir sekitar tertata dan terawat, hutan mangrove rimbun lestari dan bersemi, masyarakat sekitar tidak lagi memilih menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar Negeri," kata Muhammad Syahril dalam perbincangannya. Sabtu (5/10/2024)
Seraya Syahril mengajak mengelilingi jembatan kayu ia bercerita, Program Pengembangan Masyarakat (PPM) berkelanjutan oleh perusahan yang bergerak di bidang minyak dan gas terus digalakkan yang akhirnya tahun 2019 diresmikan "Taman Wisata Laut Labuhan" pariwisata berbasis lingkungan fokus pada kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang yang terletak di Dusun Masaran.
"Sebelum tahun 2013 masyarakat disini tidak ada yang peduli lingkungan, banyak pohon mangrove ditebang, abrasi disepanjang bibir pantai semakin parah, burung-burung banyak dijajah dengan cara ditembak, dijaring," kata Mohammad Syahril seraya menunjuk burung-burung yang sedang berceloteh di rimbun janggala mangrove.

Dua orang pengunjung didampingi Mohammad Syahril, sedang mengamati sejumlah burung yang singgah di reranting pohon mangrove dengan memperbesar melalui camera handycam. Sabtu (5/10/2024) (Foto: RRI/Miftah)
Mulai tumbuhnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar dijelaskan Syahril, mulai tahun 2013, diawali masuknya perwakilan dari PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) datang ke Desanya untuk melakukan penghijauan penanam mangrove dalam upaya mencegah abrasi laut.
"Waktu itu perwakilan dari Pertamina mengadakan pertemuan bersama Kepala Desa (Kades) dihadiri perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk merencanakan penanaman bibit mangrove di sepanjang bibir pantai Desa Labuhan yang sudah abrasi parah," ujarnya.
Syahril yang juga tercatat perangkat Desa Labuhan oleh kepala desanya diperkenalkan kepada perwakilan perusahan yang bergerak dibidang Minyak dan Gas (Migas) bersama 9 warga lainnya untuk diikutkan pelatihan dan studi banding ke Mangrove Center Tuban (MCT).
"Awalnya saya bersama masyarakat di sini tidak tahu sama sekali tentang pengetahuan mangrove. Setelah difasilitasi oleh PHE WMO untuk belajar ke Tuban tentang cara penyemaian dan metode pembibitan dan perawatan mangrove dan cemara laut, saat itulah awal mula saya dan masyarakat disini mengenal mangrove," kenang Syahril.
Seiring perjalanan waktu, Program Pengembangan Masyarakat (PPM) dari perusahaan Migas yang sukses mempertahankan peraih proper emas 2023 terus bergulir, pria kelahiran 1971 bersama masyarakat desanya membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning.
Syahril yang dipercayai menjadi Ketua Pokdarwis Payung Kuning menjelaskan, setelah dirinya bersama anggotanya memperoleh ilmu dari sejumlah pelatihan yang difasilitasi PHE WMO, selain menerapkan langsung di lapangan juga dibarengi melakukan edukasi kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.
"Melakukan edukasi pola masyarakat agar mempunyai kepedulian terhadap lingkungan sekitar dengan visi misi untuk perlindungan dan pemeliharaan lingkungan darat, laut dan udara. Daratnya itu melakukan penanaman mangrove dan cemara laut, udaranya perlindungan satwa, dan lautnya terumbu karang," kata pria berkaca mata itu dengan menunjuk lokasi terumbu karang.
Dalam perjalanan mengelilingi jembatan kayu dengan pemandangan jenggala mangrove dan hamparan laut lepas, Syahril menyatakan kontribusi dari PHE WMO sesuai dengan kearifan lokal dan sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
"Dengan adanya taman wisata laut perekonomian masyarakat disini mulai tumbuh dan bangkit. Semua masyarakat dilibatkan, ada yang menjadi pelaku UMKM berjualan, fasiltas pemesanan catering bagi pengunjung yang mengadakan acara, jadi perekonomian berputar disini tidak sampai keluar," ungkap Syahril usai membidik kita bertiga dengan camera hand phone di atas jembatan kayu dengan latar belakang laut lepas.
Sementara untuk kontribusi yang berbentuk bangunan fisik dari PHE WMO pria dua anak itu menjelaskan, salah satunya berupa fasilitas bangunan gazebo untuk tempat belajar dan pertemuan, pembangunan jembatan kayu menyusuri hutan mangrove dengan pemandangan laut lepas, pembangkit listrik tenaga hybrid dan pembangunan tangkis laut untuk penahan abrasi dibibir pantai.
"Sejak adanya listrik tenaga hybrid saya sebagai pengelola jika dimalam hari ada pengunjung yang bermalam dan mengadakan acara tidak kebingungan lagi, karena sebelumnya listrik jika malam hari sering padam sehingga sangat menganggu terhadap kegiatan pengunjung, dan sekarang sangat jauh menghemat untuk pengeluaran biaya tagihan listrik," ucapnya dengan nada senang.

Selain kontribusi fisik menurut pria yang telah genap berumur 53 tahun itu, PHE WMO juga memfasilitasi masyarakat sekitar berbagai pelatihan, seperti catering, sablon, pembuatan kopi dari biji mangrove, sehingga masyarakat disini sudah tidak berminat lagi untuk merantau keluar Negeri.
"Saat ini tercatat ada 17 jenis mangrove sejati dan 12 mangrove asosiasi yang sudah tumbuh subur di atas lahan 30 hektar dan untuk zona penanaman masih kurang 9 hektar, hamparan rimbun mangrove juga menjadi transit berbagai burung migran, sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi ternama banyak melakukan penelitian disini, sudah ada 7 koleksi skripsi yang saya punya," pungkas pria yang juga dikenal Mantri Mangrove dari Madura itu.
Dikesempatan yang sama, salah seorang pelaku UMKM Desa Labuhan Rohayah ditemui di warungnya ia bercerita, sebelum adanya Taman Wisata Laut Labuhan dirinya seorang ibu rumah tangga dan tidak mempunyai aktifitas untuk menambah penghasilan perekonomian keluarganya.
"Sekarang setiap hari saya disini berjualan, sudah bisa membantu kebutuhan keluarga dan untuk biaya anak-anak yang sedang penempuh pendidikan," ujarnya sembari tersenyum dengan mempersilahkan kita bertiga untuk beristirahat di depan warungnya.
Dikonfirmasi terpisah melalui jaringan telepon selulernya, Ahmad Hanif Installer Panel Surya Wisata Taman Laut (WTL) Labuhan mengatakan, pembangkit listrik tenaga hybrid kekuatan dayanya fluktuatif tergantung dari kondisi matahari, dan untuk system perawatannya dari panel suryanya sebisa mungin bersih dari daun dan debu, tiga bulan sekali dibersihkan dan tidak sampai terhalang sinar matahari, untuk baterai butuh pengecekan berkala, kebersihan terjaga agar tidak panas dan kincir angin butuh angin yang kencang.

“Yang saya ketahui pemasangan energy baru terbarukan itu sesuai desain awal untuk memenuhi penerangan kebutuhan di tempat wisata karena sering listrik padam dan kesulitan ketika malam hari dan juga mengurangi tagihan PLN,” kata Hanif dalam perbincangan melalui jaringan telepon selulernya yang mengaku saat ini sedang betugas di Jakarta.
Sementara itu, Pakar Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Norita Vibriyanto mengatakan, dalam mengembangkan Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan diperlukan pengembangan dan penerapan beberapa program terkait, seperti pembangunan fasilitas yang mendukung dan sesuai dengan pasar.
“Fasilitas seperti jalur pejalan kaki, papan informasi, dan fasilitas umum mungkin tidak memadai atau kurang terawat perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Norita Vibriyanto yang juga Dosen Prodi Ilmu Ekonomi FEB UTM menambahkan, perlunya pelatihan yang berkelanjutan, pengelolaan tempat wisata dan kualitas layanan kepada pengunjung belum optimal sehingga perlu diadakan pelatihan untuk pengelola wisata lokal, pemandu wisata, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) .
“Yang tidak kalah pentingnya juga promosi, kampanye pemasaran untuk menarik wisatawan domestik dan internasional diperlukan untuk meningkatkan pengunjung atau wisatawan,” ucapnya.
Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang menurut Norita adalah ancaman lingkungan berupa polusi yang dapat mengancam kesehatan mangrove dan terumbu karang, termasuk pemutihan karang dan pencemaran air. Serta pentingnya Pendidikan dan Pelatihan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan yang memadai bagi masyarakat lokal dan pengunjung.
“Strategi untuk meminimalisir resiko kerusakan antara lain dapat berupa peningkatan keterlibatan masyarakat, peningkatan infrastruktur dan teknologi, adanya pengelolaan yang berkelanjutan seperti pengelolaan yang berbasis pada daya dukung ekonomi, sosial dan lingkungan,” imbuhnya
Dikesempatan terpisah, Manager Commrel & CID Regional Indonesia Timur Rahmat Drajat mengungkapkan, Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan di Dusun Masaran, Desa Labuhan merupakan pariwisata berbasis lingkungan fokus pada kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang dan sampai sekarang yang dilakukan oleh PHE WMO dalam Program Pengembangan Masyarakat (PPM) selain lingkungan, juga sosial dan ekonomi.
“Untuk lingkungan, sejak mulai dilaksanakan program lebih dari 30 ribu pohon mangrove ditanam di lokasi program yang memberikan dampak pada peningkatan kerapatan mangrove dan peningkatan ragam flora dan fauna di lokasi program. Tidak hanya itu kegiatan konservasi terumbu karang dilakukan dengan menanam 80 kubah beton berongga yang terdiri dari 480 fragmen terumbu karang. Keberhasilan penanaman terumbu karang nyatanya telah meningkatkan koloni ikan di sekitar karang dari yang sebelumnya 8 spesies menjadi 36 spesies,” ujarnya.

Untuk keberhasilan dari kegiatan konservasi tersebut telah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberlanjutan lingkungan dan melibatkan mereka secara aktif dalam pelestariannya. Tidak hanya itu, dengan keberhasilan program tersebut, pemerintah desa Labuhan juga turut menganggarkan anggaran dana desanya untuk ikut serta mengembangkan program dengan penanaman 130 Unit kubah beton berongga.
“Untuk Sosail, meningkatkan kohesivitas sosial dan kerjasama masyarakat untuk gotong royong menjaga lingkungan dan mengedukasi pengunjung serta generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan. Untuk ekonomi, program ini telah berhasil memberdayakan 96 mantan pekerja migran dengan rata-rata pendapatan kelompok mencapai 176 Juta per tahun. Tidak hanya itu, kelompok juga memiliki olahan produk seperti kopi mangrove dan catering, kelompok juga menyediakan homestay,” ucapnya.
Rahmat menambahkan, PHE WMO berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan secara berkelanjutan dengan mengidentifikasi kebutuhan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. PHE WMO juga mendukung upaya keberlanjutan kelompok dengan melibatkan pemerintah setempat dan lembaga lainnya untuk terlibat bersama-sama mengembangkan program. Terbaru PHE WMO juga membawa Kementrian ESDM dan Kemenparekraf untuk studi banding terkait pengelolaan Desa Wisata.
“Di Taman Wisata Laut Labuhan sejak tahun 2021 juga dilengkapi dengan fasilitas pembangkit listrik tenaga hybrid dengan panel surya 370wpx15pcs: Berdaya total 5,55 KwP (kilowatt-peak), Pengembangan Energi Alternatif Solar Cell Bayu Ekowisata untuk memenuhi kebutuhan listrik dilokasi wisata serta memperkenalkan kepada masyarakat energy baru terbarukan yang bermanfaat untuk masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu kata Rahmat, pembangunan tangkis laut oleh PHE WMO merupakan langkah strategis dalam menghadapi isu lingkungan yang melanda wilayah pantai utara (Pantura) pada tahun 2022. Pada tahun tersebut, terjadi fenomena air laut pasang dengan volume besar disertai kekuatan angin yang tinggi, yang mengakibatkan potensi kerusakan serius di sepanjang pantai.
“Untuk mencegah dampak yang lebih parah di masa depan, PHE WMO memulai pembangunan tangkis laut pada tahun 2023 sebagai upaya perlindungan dan mitigasi terhadap ancaman lingkungan di kawasan itu,” kata Rahmat.

Ia menjelaskan, pengelolaan objek wisata pantai dan laut, termasuk aktivitas ekowisata, penanaman terumbu karang, dan edukasi lingkungan, telah membuka peluang pekerjaan baru bagi penduduk lokal.
“Di sektor lingkungan ada program rehabilitasi, seperti penanaman pohon dan konservasi terumbu karang, melibatkan masyarakat dalam kegiatan pelestarian yang mendukung ekosistem laut dan pesisir, sekaligus memberikan penghasilan tambahan,” imbuh Rahmat.
Program Pengembangan Masyarakat (PPM) dari PHE WMO juga disektor Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) dengan pengembangan usaha lokal yang berbasis produk-produk kelautan dan wisata, seperti makanan olahan hasil laut dan cenderamata, turut memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
“Dengan integrasi sektor-sektor tersebut, Taman Wisata Laut Labuhan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi lokal dan tahun 2021 inovasi dilakukan melalui pengembangan E-Commerce Bakaoo.id yang menjadi Website untuk penjualan Produk-produk binaan, serta menampilkan keunggulan wisata,” kata Rahmat menambahkan.
Keberadaan Taman Wisata Laut Labuhan masyarakat setempat yang terlibat langsung dari Pokdarwis Payung Koneng sebanyak 29 orang sedangkan UMKM 15 Orang, dan Homestay ada 10 rumah warga, jadi PHE WMO melibatkan secara langsung Kelompok untuk di dampingi,
Menurutnya, Program Pengembangan Masyarakat PHE WMO disesuaikan dengan tema besar yakni OBOR (one belt one road) Pariwisata Bangkalan yang akan menjadi sabuk hijau pesisir Utara Bangkalan.
“Dalam pengembangan program ini tentunya PHE WMO terlebih dahulu melakukan kajian untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan program. Potensi itu dikembangkan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat,” pungkas Rahmat sembari mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....